Fasilitas Adahi di Makkah memproses ribuan hewan dam milik jemaah haji dari berbagai negara termasuk Indonesia dengan sistem modern dan terintegrasi pada musim haji, Senin (11/5), dilansir dari Detikcom. Pusat penyembelihan yang ditunjuk pemerintah Arab Saudi tersebut menjalankan alur kerja sistematis mulai pemotongan hingga pengemasan daging.
Kapasitas operasional di tempat ini mampu menangani pemotongan hewan dalam jumlah masif setiap harinya. General Manager Hady & Adahi Program, Seraj Mohammed Alfelali memberikan penjelasan mengenai volume kerja di fasilitas tersebut saat memandu awak media.
"Per hari lebih dari 400 ribu. Lebih dari 300 ribu," ujarnya saat memandu media di fasilitas pemotongan hewan dam Adahi di Makkah, Senin (11/5).
Fasilitas ini sebenarnya memiliki daya tampung maksimal hingga 1,5 juta ekor hewan, meski saat ini kapasitas penyimpanan yang tersedia baru mencapai sekitar 1,2 juta ekor. Untuk mendukung kelancaran operasional berskala besar, pengelola melibatkan sekitar 17 ribu pegawai selama masa haji.
Proses pengolahan dibagi dalam beberapa tahap, di mana lantai dasar digunakan untuk penyembelihan, sementara lantai dua difungsikan untuk pengulitan dan pemisahan daging. Setelah itu, daging melewati ruang pencucian dan pembekuan sebelum dikemas secara akhir untuk dikirim ke tujuan.
Daging dam yang terkumpul kemudian dikirimkan ke mancanegara, terutama wilayah yang tengah menghadapi kondisi darurat atau krisis pangan. Seraj Mohammed Alfelali menjelaskan bahwa pembagian porsi daging didasarkan pada delapan kriteria golongan penerima sesuai syariat Islam.
"Kami mendistribusikan porsi daging ke negara-negara yang membutuhkan berdasarkan delapan kriteria (golongan penerima kurban berdasarkan syariat Islam)," kata Seraj.
Prioritas utama distribusi diberikan kepada wilayah yang sedang terdampak oleh perang, bencana alam, hingga wabah penyakit. Penentuan negara penerima bersifat dinamis dan dievaluasi setiap tahun sesuai dengan perkembangan situasi di tingkat global.
"Jadi kami memiliki kriteria tertentu. Berdasarkan hal itu kami menentukan porsi daging yang akan dikirim ke negara-negara tersebut. Jadi ini tidak konstan, bisa berubah setiap tahun berdasarkan situasi di seluruh dunia," ujarnya.
Faktor eksternal seperti kemunculan virus atau konflik baru sangat memengaruhi daftar distribusi bantuan daging ini. Kondisi dunia yang fluktuatif membuat manajemen Adahi harus terus memperbarui data wilayah yang paling membutuhkan bantuan pangan.
"Banyak kondisi yang memengaruhi seluruh dunia, seperti bencana alam, perang, penyakit, dan virus. Jadi tidak tetap, berubah sesuai kondisi setiap tahun," katanya.
Meskipun jemaah haji Indonesia memberikan kontribusi besar terhadap jumlah hewan dam, daging tersebut tidak didistribusikan kembali ke Indonesia. Hal ini berkaitan dengan kebijakan dalam negeri yang mengatur mengenai masuknya produk daging dari luar negeri.
"Karena otoritas Indonesia tidak mengizinkan daging yang disembelih di luar Indonesia untuk diimpor. Jadi ini karena masalah regulasi, bukan alasan lain. Itu regulasi lokal, bukan dari pihak kami," jelas Seraj.