Masyarakat di berbagai wilayah Indonesia dapat mengamati fenomena astronomi langka berupa kemunculan Blue Moon pada Minggu, 31 Mei 2026, mulai sore hari setelah matahari terbenam hingga sepanjang malam selama cuaca cerah.
Peristiwa ini menjadi istimewa karena merupakan fase bulan purnama kedua dalam satu bulan kalender masehi yang sama, setelah purnama pertama bernama Flower Moon menyapa pada 1 Mei 2026. Fenomena kalender ini tergolong jarang karena biasanya hanya terjadi sekitar 2,5 hingga 3 tahun sekali.
Selain menyandang status sebagai Blue Moon, purnama kali ini juga menjadi Micromoon atau bulan purnama terkecil sepanjang tahun 2026. Menurut data dari Earthsky.org, hal ini terjadi karena bulan berada di titik apogee, yaitu posisi terjauh dalam orbit bulanan terhadap Bumi dengan jarak sekitar 406.134 kilometer.
Akibat jarak tersebut, bulan akan tampak sekitar 5,5 hingga 7 persen lebih kecil dan terlihat 10,5 hingga 30 persen lebih redup dibandingkan dengan fenomena Supermoon. Berdasarkan konversi zona waktu dari data Time and Date serta Starwalk Space, puncak fase purnama di Indonesia akan terjadi pada pukul 15.45 WIB, 16.45 WITA, dan 17.45 WIT.
Pakar cerita rakyat Philip Hiscock merangkum fenomena unik mengenai asal-usul definisi Blue Moon bulanan yang populer di era modern saat ini.
"Ini memang bukan 'cerita rakyat kuno', tapi ini adalah cerita rakyat yang nyata (terbentuk di era modern)," kata Philip Hiscock, Pakar cerita rakyat (folkloris).
Definisi populer tersebut awalnya lahir dari kesalahan interpretasi catatan sejarah oleh James Hugh Pruett dalam artikel majalah Sky and Telescope pada Maret 1946.
"Tujuh kali dalam 19 tahun ada—dan masih ada—13 bulan purnama dalam satu tahun. Ini memberikan 11 bulan dengan masing-masing satu bulan purnama dan satu bulan dengan dua purnama. Purnama kedua dalam satu bulan ini, menurut penafsiran saya, disebut Blue Moon," tulis James Hugh Pruett, Penulis.
Meskipun demikian, NASA menegaskan bahwa penamaan Blue Moon murni merupakan istilah astronomi dan tidak membuat warna fisik bulan berubah menjadi biru. Di langit malam nanti, bulan akan tetap memancarkan warna putih kekuningan atau perak khas purnama.
Bulan yang benar-benar berwarna biru secara alami hanya bisa terjadi akibat kondisi atmosfer khusus, seperti saat partikel debu atau asap vulkanik berukuran tertentu menghalangi langit setelah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883 dan Gunung Mount St. Helens pada 1980. Pengamat di Indonesia juga dapat melihat bonus visual berupa posisi bulan yang tampak berdampingan dengan Antares, bintang merah terang di rasi bintang Scorpius.
Sebelum fenomena ini, wilayah Indonesia yang diuntungkan oleh awal musim kemarau juga telah disuguhi rangkaian peristiwa langit lain sepanjang Mei 2026.
| Tanggal | Nama Fenomena Langit | Waktu Pengamatan Terbaik |
|---|---|---|
| 1 Mei 2026 | Bulan Purnama (Flower Moon) | Sepanjang malam mulai matahari terbenam |
| 5-6 Mei 2026 | Puncak Hujan Meteor Eta Aquariid | Dini hari menjelang fajar (arah timur) |
| 18 Mei 2026 | Konjungsi Bulan Sabit dan Venus | Setelah matahari terbenam (arah barat) |
| 31 Mei 2026 | Bulan Purnama Kedua (Blue Moon) | Sepanjang malam hingga pagi hari |
Masyarakat diimbau mencari lokasi yang terbuka dan minim polusi cahaya seperti area perbukitan atau pantai untuk mengamati fenomena penutup bulan ini secara optimal menggunakan mata telanjang, binokular, maupun teleskop.