Upaya pemulihan ekosistem yang dilakukan komunitas lokal di berbagai wilayah Indonesia akan mendapatkan apresiasi khusus dalam Festival Raksha Loka. Acara yang diinisiasi oleh GEF SGP Indonesia ini dijadwalkan berlangsung pada 22–23 Mei 2026 di M-Bloc Space, Jakarta Selatan.
Kegiatan tersebut, sebagaimana dikutip dari Suara, menjadi momentum penutup dari program Global Environment Facility–Small Grants Programme (GEF SGP) Operational Phase 7 (OP7). Program berskala nasional ini telah berjalan secara intensif selama empat tahun terakhir.
Tema yang diangkat dalam festival ini adalah “Menjaga Alam, Menjaga Kehidupan di Masa Depan”. Raksha Loka tidak sekadar menjadi ajang seremonial, melainkan ruang strategis untuk memperkuat narasi kedaulatan komunitas dalam menghadapi ancaman krisis ekologis global.
Istilah Raksha Loka diambil dari bahasa Sanskerta atau Kawi yang memiliki arti “menjaga alam”. Penggunaan nama ini menegaskan bahwa perlindungan lingkungan merupakan tanggung jawab kolektif yang harus dijalankan secara berkelanjutan oleh berbagai pihak.
GEF SGP OP7 sendiri telah melakukan intervensi di empat bentang alam strategis sejak Juli 2022. Wilayah tersebut meliputi Daerah Aliran Sungai (DAS) Bodri di Jawa Tengah serta DAS Balantieng di Sulawesi Selatan.
Selain itu, program ini menjangkau wilayah penyangga Suaka Margasatwa Nantu dan Taman Hutan Raya B.J. Habibie di Gorontalo, hingga kawasan Pulau Sabu Raijua di Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 86 mitra lokal tercatat terlibat aktif dalam berbagai aksi nyata di lapangan.
Fokus utama intervensi meliputi mitigasi deforestasi, penanganan masalah erosi, hingga restorasi ekosistem mangrove yang terancam punah. Program ini juga berhasil memperkuat ketahanan komunitas dalam menjaga ketersediaan akses air bersih di wilayah terdampak.
Membawa Suara Daerah ke Ruang Kebijakan
Pemilihan M-Bloc Space di Jakarta sebagai lokasi festival memiliki tujuan simbolis untuk menghadirkan aspirasi masyarakat daerah ke pusat kekuasaan. Panitia berupaya mempertemukan pengalaman praktis di lapangan dengan diskursus kebijakan di tingkat nasional.
Festival ini dirancang untuk merangkul berbagai kalangan, mulai dari akademisi, profesional, hingga generasi muda. Harapannya, praktik baik yang telah dijalankan oleh komunitas lokal dapat direplikasi secara luas di wilayah lain di Indonesia.
Agenda Utama dan Inovasi Komunitas
Salah satu rangkaian penting dalam acara ini adalah Musyawarah Belajar Mitra (MBM). Sesi ini menjadi wadah bagi komunitas penerima manfaat untuk saling berbagi inovasi, seperti teknologi rumah ikan di Sabu Raijua hingga konservasi sungai di Sulawesi Selatan.
Dalam kesempatan yang sama, Yayasan Epistema akan meluncurkan Buku Kearifan Lokal yang mendokumentasikan pengetahuan tradisional dalam pengelolaan alam. Festival ini juga menandai peluncuran program BUMI (Bantuan Usaha Melalui Investasi) guna mendukung kemandirian ekonomi komunitas.
Sisi inklusivitas acara ditunjukkan melalui keterlibatan penyanyi difabel dalam rangkaian pertunjukan seni. Selain diskusi kebijakan, pengunjung dapat mengeksplorasi bursa produk mitra di Gang Kolektif serta menikmati penampilan musik dari Marcel Siahaan, Ciliwung Band, dan Sasando Gaspar Raja.