Film Pesta Babi Soroti Ekspansi Lahan Gurita Bisnis Martias Fangiono

Film Pesta Babi Soroti Ekspansi Lahan Gurita Bisnis Martias Fangiono

Kontroversi pemutaran film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita memicu sorotan publik terhadap jaringan bisnis perkebunan besar milik keluarga Martias Fangiono pada Senin, 18 Mei 2026.

Tayangan tersebut mengangkat isu konflik lahan, proyek strategis nasional (PSN), serta dugaan kerusakan lingkungan akibat ekspansi industri sawit dan tebu di wilayah Merauke, Papua Selatan.

Nama pengusaha Angelia Bonaventure Sudirman turut menjadi perbincangan di media sosial karena diduga terkait dengan kepemilikan saham di beberapa perusahaan konsesi lahan pada kawasan tersebut.

Laporan dari lamongan.pikiran-rakyat.com menyebutkan bahwa Angelia memiliki hubungan kekeluargaan dengan Martias Fangiono yang merupakan pendiri Grup Surya Dumai.

Investigasi lingkungan mengaitkan namanya sebagai pemegang saham mayoritas di PT SHL dan PT SHE yang beroperasi di wilayah sengketa hutan adat Papua tersebut.

Di sisi lain, media sawitku.id melaporkan bahwa Martias Fangiono telah membangun gurita bisnis agribisnis sejak era 1980-an melalui PT Surya Dumai Industri Tbk.

Grup bisnis ini melahirkan First Resources yang tercatat di Bursa Singapura sejak 1992 dan kini dipimpin oleh salah satu anaknya, Ciliandra Fangiono.

Keluarga ini mengelola ratusan ribu hektare lahan melalui berbagai perusahaan seperti FAP Agri yang dikendalikan Wirastuty Fangiono serta PT Ciliandry Anky Abadi.

Belakangan, jaringan bisnis keluarga Fangiono dikabarkan masuk ke dalam konsorsium proyek food estate dan gula nasional untuk komoditas tebu serta bioetanol di Merauke.

Kendati demikian, manajemen First Resources sebelumnya telah membantah adanya hubungan kepemilikan dengan perusahaan-perusahaan yang dikaitkan dengan proyek tebu di Papua Selatan tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi