Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) sukses menempati peringkat top 100 dunia pada delapan kategori penghargaan di ajang World University Rankings for Innovation (WURI) 2026. Kompetisi global ini melibatkan 13.211 program inovasi dari 1.927 universitas yang tersebar di 96 negara.
Dua inovasi unggulan FKG UGM bahkan berhasil menduduki peringkat pertama. Inovasi Dental Silkbon meraih posisi puncak pada kategori Representative Research Project, sedangkan inovasi Propasdent memimpin di kategori Financial Impact-Driven Technology Transfer. Prestasi ini diraih di tengah persaingan ketat dengan universitas-universitas besar dari berbagai negara.
Dekan FKG UGM, Suryono, menyatakan bahwa pencapaian luar biasa ini merupakan buah dari komitmen dan kerja keras seluruh tim selama beberapa tahun terakhir, seperti dikutip dari Medcom.
“Saya merasa sangat senang dan bangga terhadap tim yang telah bekerja keras. Dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun terakhir, FKG UGM berhasil menempatkan diri pada berbagai kategori pemeringkatan dunia,” ujar Suryono.
Keberhasilan ini juga tidak lepas dari strategi institusi dalam membangun narasi reputasi dan memperkenalkan inovasi ke tingkat internasional. Banyak perguruan tinggi memiliki prestasi besar, tetapi belum optimal dalam mensosialisasikannya kepada publik global.
“Sebaik apa pun prestasi yang dimiliki, jika tidak pernah dikenalkan kepada pihak eksternal, maka tidak akan pernah mendapat rekognisi,” kata Suryono.
Manajemen yang kreatif dan inovatif dinilai sangat krusial untuk membangun citra institusi di mata lembaga pemeringkatan dunia. Pada tahun 2024, FKG UGM bahkan pernah menempati peringkat keenam dunia dalam kategori Entrepreneurial Spirit, mengungguli universitas ternama seperti Oxford dan Harvard University.
“Tentu perangkingan bukan satu tujuan, tetapi setidaknya kita membuktikan bahwa prestasi itu kalau dibiarkan ya tidak ubahnya semacam emas yang tertutup lumpur,” ujar Suryono.
Terkait dua inovasi utama yang mendapat penghargaan, satu produk telah menyelesaikan tahap hilirisasi prototipe, sementara produk lainnya tengah diarahkan menuju proses komersialisasi. Inovasi pertama memanfaatkan serat sutra alami hasil budidaya petani lokal sebagai material kedokteran gigi untuk pengikat gigi goyah dan bahan gigi tiruan.
Inovasi kedua adalah pasta gigi Propasdent yang dirancang untuk menjaga keseimbangan mikroflora di dalam rongga mulut. Konsep ini didasarkan pada pemikiran bahwa rongga mulut tidak harus steril, melainkan perlu dijaga keseimbangan mikroorganismenya agar tidak memicu gangguan kesehatan.
“Salah satu kekuatan inovasi kita adalah mengangkat kearifan lokal untuk digunakan sebagai bagian daripada material. Seperti yang diketahui material kedokteran gigi itu kan 90 persen impor, tetapi ternyata kita dengan berbahan lokal pun bisa menciptakan,” jelas Suryono.
Langkah ini diambil agar hasil penelitian di perguruan tinggi tidak berhenti pada tahap publikasi ilmiah saja, tetapi berlanjut hingga memperoleh HAKI, hilirisasi, dan komersialisasi. Budaya riset ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi serta sosial yang lebih luas bagi masyarakat.
Suryono mengidentifikasi penguatan aspek komersialisasi produk riset sebagai tantangan berikutnya bagi institusi. Pihaknya berharap UGM membentuk unit khusus yang dapat membantu pemasaran produk hilirisasi riset dari berbagai fakultas sebagai sumber pendanaan mandiri.
“Kami berharap ada unit khusus di UGM yang bisa membantu komersialisasi produk hasil hilirisasi riset sehingga dapat menjadi sumber pendanaan tambahan bagi pengembangan institusi,” ujar Suryono.
FKG UGM berencana untuk terus berpartisipasi dalam berbagai kategori pemeringkatan internasional di masa depan. Namun, pihak fakultas akan membidik bidang baru yang sesuai dengan potensi internal, bukan bertanding pada kategori yang sama.
“Tidak ada yang tidak bisa dilakukan selama kita mau berusaha. Saya yakin generasi berikutnya di FKG UGM ini bisa melanjutkan prestasi yang telah kita capai dan sangat luar biasa,” ucap Suryono.