Gas Tambang Uranium Sebabkan Penyakit Tidur Misterius di Kazakhstan

Gas Tambang Uranium Sebabkan Penyakit Tidur Misterius di Kazakhstan

Pemerintah Kazakhstan berhasil mengungkap penyebab penyakit tidur misterius yang menyerang ratusan warga di Kota Kalachi dan Krasnogorsk sejak tahun 2010. Fenomena aneh yang membuat penduduk tertidur pulas selama berhari-hari ini dipicu oleh tingginya kadar karbon monoksida dari tambang uranium tua.

Penyakit aneh ini pertama kali menyerang seorang perempuan paruh baya bernama Lyubov Belkova pada April 2010 saat bekerja di pasar. Berdasarkan laporan yang dilansir dari Detik iNET, korban tiba-kira merasa sangat mengantuk dan baru terbangun empat hari kemudian di rumah sakit.

Gelombang penyakit tidur terus meluas hingga mencakup lebih dari 140 insiden di kedua kota tersebut dalam kurun waktu lima tahun. Gejala yang dialami pasien meliputi bicara tidak jelas, tubuh bergerak sendiri, penglihatan ganda, halusinasi, hingga kondisi lelap yang menyerupai koma.

Otoritas setempat sempat mencurigai vodka palsu, histeria massal, hingga radiasi dari bekas tambang uranium milik Uni Soviet yang ditinggalkan sejak tahun 1990-an. Namun, pengujian medis dan lingkungan membuktikan bahwa kadar radiasi di 7.000 rumah warga terlalu rendah untuk memicu gejala pingsan.

Penyelidikan medis pada 2015 akhirnya membuktikan bahwa penurunan kadar oksigen akibat tingginya karbon monoksida dan hidrokarbon dari tambang menjadi penyebab utama. Gas beracun tersebut mengikat darah 200 kali lebih efektif daripada oksigen, sehingga memicu otak untuk berhenti bekerja sementara waktu.

"Tambang uranium pernah ditutup, dan ada kalanya terjadi konsentrasi karbon monoksida di sana," kata Berdibek Saparbaev, Wakil Perdana Menteri Kazakhstan saat mengumumkan hasil investigasi pada musim panas 2015.

Pemerintah kemudian mengevakuasi penduduk yang tersisa dari wilayah tersebut demi keselamatan mereka.

"Oksigen di udara berkurang, itulah penyebab sebenarnya penyakit tidur di desa-desa ini," lanjut Berdibek Saparbaev.

Kendati demikian, sejumlah ilmuwan dan ahli paru sempat meragukan bahwa karbon monoksida adalah satu-satunya faktor penyebab. Keraguan muncul karena tambang sudah tidak aktif sejak awal dekade sembilan puluhan, sedangkan gas tersebut biasanya merupakan produk dari proses pembakaran.

Artikel terkait

Rekomendasi