Generasi Peduli Iklim Ungkap Tantangan Hadapi Serangan Buzzer di Media Sosial

Generasi Peduli Iklim Ungkap Tantangan Hadapi Serangan Buzzer di Media Sosial

Kesadaran generasi muda yang meninggi terhadap isu lingkungan memicu kehadiran berbagai komunitas peduli iklim. Namun, gerakan menyuarakan kondisi bumi saat ini kerap menghadapi rintangan yang tidak mudah di dunia digital.

Koordinator Generasi Peduli Iklim, Muhammad Asyrof Naf’il, menjelaskan hambatan terbesar muncul ketika komunitasnya membahas persoalan lingkungan yang berkaitan dengan kebijakan penguasa atau kepentingan kelompok tertentu, seperti dikutip dari Suara.

Aktivitas digital tersebut tidak jarang memicu reaksi keras di ruang siber. Komunitas ini sempat menerima gelombang komentar negatif hingga serbuan akun-akun yang terindikasi sebagai pendengung atau buzzer setelah mengulas topik lingkungan yang sensitif.

“Tantangannya itu mungkin ketika kita menaikkan berita atau isu yang agak bersinggungan dengan pemerintah,” kata Asyrof.

“Misalnya ada kasus tertentu yang perlu kita naikkan, tetapi ketika dinaikkan ternyata banyak buzzer yang menyerang,” ujarnya.

Kendati demikian, tekanan di dunia maya dinilai masih bisa dilewati. Hal tersebut dikarenakan fokus utama gerakan mereka tetap tertuju pada penyebaran wawasan serta penguatan kesadaran publik mengenai isu ekologi.

Berbeda dari organisasi lingkungan yang terjun langsung dalam advokasi hukum atau pendampingan kasus berat, Generasi Peduli Iklim mengambil jalan edukasi serta aksi sosial yang membaur dengan publik.

Langkah advokasi langsung dinilai menuntut kesiapan, sumber daya, sekaligus risiko yang besar. Aktivis yang mendampingi masyarakat di wilayah konflik lingkungan bahkan rentan mendapatkan tekanan fisik maupun psikologis.

“Jadi kita nggak yang advokasi langsung ke masyarakat. Misalkan mendampingi kasus, kami rasa terlalu berat. Itu menjadi tugas WALHI saja. Kita anaknya WALHI cukup yang lebih santai,” tutur Asyrof.

“Kalau kita mencoba melakukan seperti yang dilakukan WALHI itu kesannya terlalu berat. Mereka sampai mendampingi masyarakat yang terdampak langsung dan bahkan bisa mengalami teror-teror dari pihak yang merasa terganggu dengan gerakan mereka,” katanya.

Atas dasar pertimbangan risiko tersebut, komunitas ini mengarahkan program pada kegiatan kolektif yang ringan. Agenda mereka meliputi edukasi lingkungan, pembersihan kawasan pantai, penanaman mangrove, hingga kampanye gaya hidup ramah lingkungan.

Membangun Kolaborasi Bersama Pemerintah

Walaupun kerap melayangkan kritik terhadap kondisi lingkungan, Generasi Peduli Iklim tidak memosisikan diri sebagai oposisi pemerintah. Ruang kemitraan tetap terbuka lebar selama memiliki visi yang sejalan dalam merawat bumi.

“Kita tidak anti dengan pemerintah, tapi kita anti dengan ketidakadilan,” tegas Asyrof.

Komunitas ini tercatat beberapa kali menjalin kemitraan dengan pemerintah daerah serta dinas lingkungan hidup untuk agenda penghijauan. Kerja sama tersebut mencakup penyediaan bibit pohon dalam program restorasi kawasan pesisir.

“DLH biasanya ngasih beberapa ratus pohon untuk kita tanam bersama-sama. Jadi tetap kita ada jalinan komunikasi yang baik dengan pemerintah,” ujarnya.

Generasi Peduli Iklim tetap menaruh optimisme tinggi untuk menggerakkan keterlibatan anak muda yang lebih luas. Tindakan sekecil apa pun dinilai krusial dalam memitigasi dampak perubahan iklim yang nyata terjadi.

Asyrof mengharapkan generasi muda tidak sekadar menjadi penonton, melainkan berani mengambil peran aktif dalam gerakan penyelamatan lingkungan hidup.

“Krisis iklim ini bukan isu masa depan, tetapi isu hari ini yang sudah kita rasakan bersama,” pungkasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi