Gerakan Literasi Bahasa Pasir Buncir Hadirkan 250 Buku Baru untuk Anak Desa

Gerakan Literasi Bahasa Pasir Buncir Hadirkan 250 Buku Baru untuk Anak Desa

Akses literasi kini mulai menyentuh anak-anak di lereng pegunungan Desa Pasir Buncir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Kepedulian terhadap dunia pendidikan menggerakkan Despi Hermawati untuk membantu anak-anak di wilayah terpencil tersebut mendapatkan bahan bacaan yang layak.

Melalui gerakan bertajuk "Literasi Bahasa Pasir Buncir", sebanyak 250 buku baru berhasil dihadirkan. Fasilitas ini menyasar sekitar 70 anak usia 4 hingga 12 tahun yang tinggal di Kampung Wangun Jaya dan Mekar Jaya, seperti dikutip dari Medcom.

Langkah ini diambil karena literasi diyakini menjadi kunci utama perubahan. Membaca tidak hanya membuka wawasan dan membangun nalar, tetapi juga memperluas cita-cita anak-anak di pelosok desa.

Kehidupan di lereng pegunungan Desa Pasir Buncir menyimpan realita yang cukup berat bagi generasi muda. Anak-anak di Kampung Wangun Jaya dan Mekar Jaya harus menghadapi keterbatasan akses pendidikan yang nyata akibat kondisi geografis.

Untuk mencapai Sekolah Dasar (SD), anak-anak setempat harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer menyusuri jalan setapak yang sempit dan menukik. Tantangan semakin besar bagi mereka yang ingin melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) karena jaraknya berlipat menjadi tujuh kilometer.

Jarak menuju Sekolah Menengah Atas (SMA) bahkan mencapai 14 kilometer dan harus menembus kecamatan lain. Situasi ini menjadi kian sulit karena tidak semua orang tua di desa tersebut memiliki sepeda motor untuk mengantar anak mereka.

"Jalannya jauh sekali. Makanya banyak anak SMP di sini ya sudah lulus terus bekerja, menikah," ujar Despi saat ditemui Senin, 8 Juni 2026.

Despi sendiri bukan seorang guru ataupun pejabat desa, melainkan istri seorang petani yang menetap di sana sejak 14 tahun lalu. Didorong rasa kepedulian, ia menggerakkan ibu-ibu di sekitarnya untuk memperjuangkan masa depan anak-anak melalui literasi.

"Kalau anak-anak terbiasa membaca, mereka mulai tahu bahwa ada sesuatu di luar kampung ini yang bisa mereka raih," kata Despi.

Penantian Panjang Ketersediaan Bahan Bacaan

Hadirnya ratusan buku baru ini menjadi pelepas dahaga setelah penantian panjang selama bertahun-tahun. Ketersediaan buku di PAUD swadaya yang dihibahkan oleh warga setempat sebelumnya tercatat nyaris nol.

Buku terakhir yang masuk ke kampung tersebut merupakan sumbangan dari kegiatan bakti sosial kampus pada tahun 2006. Lembaran-lembaran yang sudah lusuh tersebut dibaca secara bergantian dari satu tangan ke tangan lain oleh beberapa generasi.

Kini, suasana di pelataran sederhana Kampung Wangun Jaya tampak berbeda saat puluhan anak berkumpul menyambut buku-buku baru. Di antara mereka, terdapat Faeyza Kenzie yang berusia 8 tahun tampak meraba sampul kaku dan licin dari buku bergambar di pangkuannya.

Tidak jauh dari lokasi tersebut, Muhammad Nasir yang berusia 11 tahun antusias melihat gambar rasi bintang dan pesawat luar angkasa. Saat ditanya mengenai cita-cita, kedua anak tersebut menjawab dengan kompak dan lantang.

"Saya tidak minta banyak. Saya hanya mau anak-anak di sini punya kesempatan yang sama untuk bermimpi, punya bacaan," ucap dia.

Kolaborasi Multi-Sektor Demi Pembangunan Desa

Ratusan buku bersampul cerah tersebut dapat hadir berkat inisiasi dari Ikatan Penggerak Swadaya Masyarakat Indonesia (IPSMI). Gerakan ini berjalan melalui kolaborasi bersama Perpustakaan Nasional serta Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Penggerak literasi desa, Neni Herlina, yang mendampingi gerakan ini menegaskan bahwa aktivitas membaca memiliki esensi yang lebih dalam dari sekadar mengeja kata. Menurut Neni, literasi berfungsi untuk membangun nalar kuat yang menjadi bekal nyata dalam mengubah nasib.

Pandangan serupa disampaikan oleh Kartika Puspitasari selaku penggerak swadaya masyarakat yang terlibat dalam program ini. Kartika meyakini bahwa pendekatan literasi akan menjadi katalisator positif, karena masyarakat yang literat merupakan masyarakat yang memahami potensi dirinya untuk memulai pembangunan desa.

Guna memastikan keberlanjutan gerakan ini, Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (Umbara) turut hadir memberikan pendampingan. Langkah pendampingan ini dilakukan agar semangat membaca anak-anak di sudut kampung tidak padam setelah hari pertama berlalu.

Artikel terkait

Rekomendasi