Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menerima kunjungan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Laos Thongsavan Phomvihane di Istana Wapres, Jakarta, pada Selasa (5/5/2026). Pertemuan tingkat tinggi ini difokuskan pada penguatan kerja sama bilateral menjelang peringatan tujuh dekade hubungan diplomatik kedua negara.
Peningkatan hubungan tersebut mencakup berbagai aspek strategis mulai dari stabilitas kawasan hingga penguatan sektor ekonomi. Dilansir dari Nasional, Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta menjelaskan bahwa pertemuan ini merupakan langkah persiapan menyambut usia hubungan diplomatik yang hampir mencapai 70 tahun.
"Karena tahun depan insya Allah hubungan kita dengan Laos ini akan memasuki tahun ke-70. Jadi kita akan merayakan hubungan bilateral kita dengan Laos insyaa Allah tahun depan yang ke-70," ujar Anis Matta, Wakil Menteri Luar Negeri RI.
Anis Matta menilai momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk menghasilkan kesepakatan yang lebih berdampak bagi kedua belah pihak. Pemerintah RI memandang pentingnya pencapaian nyata dalam perayaan diplomatik tersebut.
"Karena itu kita berpikir bahwa harus ada sesuatu yang lebih strategis yang bisa kita rayakan pada usia hubungan di politik kita yang sudah memasuki tahun ke-70 ini," ucap Anis Matta, Wakil Menteri Luar Negeri RI.
Selain membahas seremonial diplomatik, pertemuan selama satu jam tersebut menyoroti ketimpangan nilai perdagangan. Berdasarkan data yang dipaparkan, total nilai perdagangan Indonesia-Laos baru mencapai 83,8 juta dollar AS, angka yang tergolong rendah di lingkup ASEAN.
"Karena itu kita berpikir untuk meningkatkan hubungan kerja sama ekonomi ini karena dalam hubungan perdagangan kita ini Indonesia defisit sebesar 57 juta," ujar Anis Matta, Wakil Menteri Luar Negeri RI.
Salah satu langkah konkret untuk menekan defisit tersebut adalah pengembangan industri pupuk melalui kolaborasi BUMN. Indonesia berencana memperkuat pasokan bahan baku dari Laos untuk mendukung ketahanan pangan dalam negeri.
"Kita mengimpor potas dari Laos untuk kebutuhan pupuk kita di sini. Sehingga pemerintah berniat untuk melakukan melalui PT Pupuk investasi di Laos nanti kerja sama dalam bidang industri ini," kata Anis Matta, Wakil Menteri Luar Negeri RI.
Di samping sektor pertambangan dan ekonomi, kedua negara sepakat meningkatkan kolaborasi di bidang keamanan. Prioritas utama adalah pemberantasan jaringan penipuan daring (scam) internasional yang kerap melibatkan warga negara Indonesia.
"Karena selain Kamboja ada Laos yang juga banyak WNI yang terlibat dalam kasus ini sehingga pengembangan kerja sama ini dalam kerja sama intelijen dan keamanan ini sangat penting untuk kita tingkatkan," tutur Anis Matta, Wakil Menteri Luar Negeri RI.