PM Giorgia Meloni Kritik Keras Regulasi Birokrasi Uni Eropa

PM Giorgia Meloni Kritik Keras Regulasi Birokrasi Uni Eropa

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengkritik keras Uni Eropa yang dinilai telah berubah menjadi raksasa birokrasi dalam sidang umum asosiasi pengusaha Confindustria di Roma pada Rabu (27/5/2026).

Kritik tersebut menyoroti banjir regulasi dan pendekatan ideologis Brussel yang dianggap mengorbankan daya saing ekonomi serta pertumbuhan industri negara anggota di tengah persaingan global.

Asosiasi industri Italia mencatat tekanan berat yang dihadapi sektor manufaktur akibat lonjakan biaya energi serta hantaman produk impor dari Tiongkok.

Presiden Confindustria Emanuele Orsini menyampaikan bahwa sektor industri dasar seperti kertas, baja, kaca, kimia, semen, dan keramik menjadi yang paling terdampak oleh aturan Uni Eropa.

“Seluruh industri dasar Eropa sedang berada di bawah tekanan.” ujar Emanuele Orsini, Presiden Confindustria seperti dilansir dari firstonline.info.

Orsini menegaskan pelaku usaha tidak akan menyerah pada kondisi deindustrialisasi dan berkomitmen untuk terus berinvestasi serta memperkuat bisnis di Italia.

“Kami tidak menerima deindustrialisasi sebagai takdir yang telah ditentukan.” kata Emanuele Orsini.

Menurutnya, ekspor manufaktur yang selama ini menopang ekonomi Italia kini terhambat oleh ketegangan geopolitik dan biaya akses pasar Amerika yang semakin mahal.

“Kami merasa bertanggung jawab untuk kembali tumbuh, memperkuat bisnis kami, dan berinvestasi dalam penelitian dan inovasi,” tegas Emanuele Orsini.

Orsini juga mengeluhkan regulasi Brussel yang tumpang tindih, di mana 10 paket legislatif baru diajukan pada akhir 2025 dan 12 paket lainnya menyusul pada 2026.

“Eropa yang benar-benar federal,” kata Emanuele Orsini.

Ia menambahkan bahwa Uni Eropa kehilangan 250 ribu pekerjaan manufaktur sejak awal mandat komisi karena tidak adanya kebijakan perlindungan industri internal.

“Brussel tidak jelas tentang apa arti daya saing. Sejak awal mandat komisi ini, Eropa telah kehilangan 250 pekerjaan manufaktur, yang berarti satu juta pekerjaan lebih sedikit di industri terkait. Ini terjadi karena kita tidak menerapkan kebijakan untuk mempertahankan industri di benua kita; sebaliknya, kita mendorongnya untuk pergi dan pindah,” papar Emanuele Orsini.

Oleh karena itu, Confindustria mendesak penghentian segera Sistem Perdagangan Emisi (ETS) Eropa yang dinilai memberatkan sektor produksi.

“Kita harus bereaksi secara bersatu dan memberdayakan para pengusaha untuk melakukan pekerjaan mereka.” kata Emanuele Orsini.

Selain itu, ia menuntut pembenahan total pada sektor energi nasional dengan membuka area energi terbarukan dan mempercepat transisi kembali ke tenaga nuklir.

“Untuk bisnis Harga energi kini menjadi ancaman eksistensial yang nyata.Kita tidak bisa terus membayar harga tertinggi di Eropa untuk energi di pabrik-pabrik kita. Italia, karena pilihan yang dibuat di masa lalu dalam meninggalkan tenaga nuklir, atau karena pilihan yang dibuat oleh Daerah-aerah saat ini mengenai energi terbarukan, sekarang benar-benar tidak sesuai skala dan keluar dari pasar." tutur Emanuele Orsini.

Merespons keluhan tersebut, Perdana Menteri Giorgia Meloni menyatakan kesepahaman tujuan dengan dunia usaha untuk mereformasi birokrasi dan memprotes arah kebijakan Brussel.

“Jika Italia dikenal dunia sebagai rumah bagi keindahan, kualitas, dan karya terbaik, itu berkat perusahaan-perusahaan kita dan para pekerjanya,” ujar Giorgia Meloni di hadapan para pelaku industri.

Meloni menilai Uni Eropa sangat agresif memperluas aturan domestik namun gagal menyuarakan kepentingan strategisnya di panggung internasional.

“Eropa tak terbendung dalam memperbanyak aturan, tetapi picik ketika harus menyuarakan kepentingannya di panggung dunia,” kata Giorgia Meloni sebagaimana diberitakan Euro News.

Ia membandingkan kelambatan Eropa dengan fleksibilitas Amerika Serikat, Tiongkok, dan India yang bergerak cepat membangun infrastruktur dan menarik investasi.

“Kita punya ribuan aturan, tapi tak punya suara yang cukup kuat untuk membela kepentingan kita di dunia,” cetus Giorgia Meloni.

Meloni mencontohkan bagaimana regulasi Uni Eropa terlalu mendikte hal-hal kecil di saat industri manufaktur lokal bertumbangan akibat tidak mampu bersaing dengan subsidi asing.

“Kita mengatur cara orang memakai sendok, tapi diam saja ketika pabrik-pabrik kita tutup karena tak mampu bersaing dengan subsidi asing,” tegas Giorgia Meloni.

Ia membantah bahwa sikap kritisnya bertujuan untuk merusak Uni Eropa, melainkan untuk membangun kembali kekuatan peradaban Eropa demi masa depan.

“Eropa tak terbendung dalam kemampuannya memperbanyak aturan di setiap aspek kehidupan bersama, tetapi berpandangan sempit ketika harus menyuarakan pendapatnya dalam kehidupan global,” ucap Giorgia Meloni.

Meloni menyerukan reformasi birokrasi bersama di Italia dan menuntut agar Brussel memfokuskan anggarannya pada efisiensi pertumbuhan pasar.

“Kita meminta agar Eropa mengurangi pengeluaran dan melakukannya dengan lebih baik.” lanjut Giorgia Meloni.

Pada akhir pidatonya, Meloni menekankan perlunya kebijakan yang berani dan cepat untuk mengubah arah produktivitas benua tersebut.

“Kita tidak dibangun untuk mengatur dunia. Kita dibangun untuk mengubahnya.” tutup Giorgia Meloni.

Di sisi lain, Uni Eropa sebenarnya telah menerapkan program reformasi administrasi seperti "Regulasi yang Lebih Baik" melalui pembentukan Dewan Peninjau Regulasi dan program REFIT untuk memangkas prosedur bagi usaha kecil dan menengah.

Artikel terkait

Rekomendasi