Gletser Tropis Papua Terancam Punah Akibat Pemanasan Global dan El Nino

Gletser Tropis Papua Terancam Punah Akibat Pemanasan Global dan El Nino

Gletser tropis terakhir di Asia yang terletak di Puncak Jaya, Papua, terancam hilang sepenuhnya sebelum akhir dekade ini setelah kehilangan 97 persen es dalam 44 tahun terakhir. Fenomena ini diperparah oleh kenaikan suhu global dan siklus El Nino yang meningkatkan laju pencairan es di wilayah tersebut pada Jumat (15/5/2026).

Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi untuk mengikuti jejak Venezuela dan Slovenia sebagai negara yang kehilangan seluruh gletsernya. Dilansir dari Lestari, hanya tersisa gletser Carstensz dan Firn East Northwall yang diprediksi akan lenyap secara permanen pada paruh kedua tahun 2026 atau 2027.

Ahli geologi di Lamont-Doherty Earth, Mike Kaplan, memberikan penjelasan mengenai kerentanan gletser di wilayah tropis. Ukuran yang kecil membuat lapisan es di area ini menjadi yang paling cepat merespons perubahan suhu dibandingkan gletser di lintang tinggi.

"Gletser di sini dapat dianggap sebagai pertanda bahaya—terutama untuk negara-negara yang sejak awal memiliki sedikit es gletser," tutur Kaplan.

Kaplan menambahkan bahwa pengaruh El Nino memberikan dampak ganda yang merusak bagi stabilitas es di dataran tinggi Papua. Kondisi cuaca yang menjadi lebih kering dan hangat mengakibatkan berkurangnya akumulasi salju sekaligus mempercepat proses pelelehan.

"Bagi Papua, cuaca menjadi kering dan hangat selama El Niño, yang berarti lebih sedikit salju di dataran tinggi dan lebih banyak pencairan. Keduanya bisa menjadi malapetaka, terutama bagi gletser kecil," ujar Kaplan.

Meskipun terdapat skenario penurunan emisi gas rumah kaca secara signifikan, keseimbangan suhu Bumi tetap membutuhkan waktu untuk stabil. Kaplan menilai kondisi lingkungan saat ini sudah terlalu ekstrem untuk mempertahankan keberadaan sisa es yang ada.

"Dalam kondisi saat ini, kemungkinan besar terlalu hangat dan kering bagi gletser-gletser ini untuk tetap ada, terutama jika terjadi tahun El Niño yang kuat," ucapnya.

Data dari peneliti BMKG, Donaldi Permana, menunjukkan penyusutan drastis dari luas sekitar 19,3 kilometer persegi pada tahun 1850 menjadi hanya 0,16 hingga 0,23 kilometer persegi pada periode 2022-2024. Penipisan vertikal es bahkan melonjak hampir lima kali lipat selama peristiwa El Nino tahun 2015 dan 2016.

"Dengan meningkatnya kemungkinan El Niño yang kuat pada paruh kedua tahun 2026, hilangnya gletser Indonesia kemungkinan akan terjadi pada tahun 2026–2027. Nasib gletser-gletser ini mungkin sudah ditentukan," tutur Donaldi.

Selain dampak lingkungan, hilangnya gletser ini juga memicu kekhawatiran terkait hilangnya identitas spiritual bagi masyarakat adat Papua. Wewin Wira Cornelis Wahid menekankan bahwa fenomena ini merupakan bentuk nyata dari kerentanan lingkungan.

"Yang sejak lama dikenal secara lokal sebagai 'salju abadi' atau salju abadi, hilangnya gletser secara cepat mencerminkan bagaimana sesuatu yang dulunya dianggap permanen kini sangat rentan terhadap perubahan iklim," tutur Wewin Wira Cornelis Wahid.

Artikel terkait

Rekomendasi