Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) meresmikan program pengembangan model percontohan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) inklusif melalui kegiatan sosialisasi di Wisma Kusuma Wates, Kabupaten Kulon Progo, pada Senin, 4 Mei 2026. Langkah ini bertujuan menciptakan sistem pendidikan yang setara dan relevan dengan kondisi lokal bagi seluruh anak di wilayah tersebut.
Sebanyak 80 pemangku kepentingan dari Dinas Pendidikan, Bagian Kesejahteraan Rakyat, organisasi profesi seperti HIMPAUDI, IGTKI, dan IGABA, hingga tenaga pendidik hadir dalam acara tersebut. Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu mengatasi hambatan akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kulon Progo, sebagaimana dilansir dari Lestari.
Manager GNI CDP Yogyakarta, Makrus Ali, memberikan penegasan bahwa setiap anak memiliki hak fundamental untuk mendapatkan pengajaran yang berkualitas. Upaya ini difokuskan pada penguatan kapasitas guru dan sistem pendukung di tingkat satuan pendidikan anak usia dini.
"Setiap anak berhak mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas, bahkan sejak usia dini, tanpa kecuali anak-anak dengan kebutuhan khusus," ujar Makrus Ali, Manager GNI CDP Yogyakarta.
Makrus menambahkan bahwa inisiatif ini dirancang agar tenaga pendidik di Kulon Progo memiliki kesiapan lebih baik dalam mendampingi siswa dengan kondisi yang beragam. Fokus program bukan hanya pada kurikulum, melainkan pada ekosistem pendampingan secara menyeluruh.
"Melalui program ini, kami ingin mendorong pendidikan di Kulon Progo lebih inklusif, termasuk guru-guru yang nanti akan mendampingi anak-anak," ujar Makrus Ali, Manager GNI CDP Yogyakarta.
Data asesmen GNI menunjukkan urgensi besar dalam pemerataan akses pendidikan di wilayah tersebut. Dari total 858 layanan PAUD di 12 kapanewon, baru tercatat 55 anak berkebutuhan khusus yang terakomodasi pada tahun ajaran 2025/2026, yang diduga belum mencerminkan jumlah sebenarnya di lapangan.
Beberapa kendala utama yang diidentifikasi meliputi rendahnya penerimaan sosial masyarakat, keterbatasan kompetensi guru dalam menangani ABK, hingga minimnya sarana prasarana adaptif. GNI berkomitmen melakukan pendampingan pada 20 satuan PAUD agar lebih aksesibel bagi siswa berkebutuhan khusus.
Program ini mencakup pelatihan intensif bagi 174 pendidik dan penyediaan fasilitas fisik yang ramah disabilitas. Selain itu, kampanye kesadaran publik ditargetkan menjangkau 600 perwakilan masyarakat guna meningkatkan dukungan sosial terhadap pendidikan inklusif.
Dalam pelaksanaan akademisnya, GNI menggandeng Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk menyusun modul pembelajaran PAUD Inklusif berbasis kearifan lokal Kulon Progo. Modul tersebut nantinya akan disebarluaskan ke seluruh jaringan guru untuk memastikan keberlanjutan model pendidikan yang menghargai perbedaan tersebut.