GRIB Jaya Geruduk Rumah Ahmad Bahar Terkait Dugaan Intimidasi Digital

GRIB Jaya Geruduk Rumah Ahmad Bahar Terkait Dugaan Intimidasi Digital

Rumah penulis buku Ahmad Bahar di Cimanggis, Depok digeruduk oleh sekelompok pria anggota ormas GRIB Jaya akibat dugaan intimidasi digital dan konten video kritik terhadap Ketua Umum GRIB Jaya, Rosario de Marshall alias Hercules. Peristiwa tersebut berujung pada dibawanya putri Ahmad Bahar ke markas ormas sebelum akhirnya kedua belah pihak sepakat damai di Polres Metro Depok pada Senin, 18 Mei 2026.

Aksi penggerebekan oleh rombongan pria tersebut dipicu oleh pesan ancaman yang dikirim ke Hercules menggunakan nomor anak Ahmad Bahar yang diduga telah diretas, serta unggahan video TikTok Ahmad Bahar yang mengkritik Hercules saat berseteru dengan Amien Rais, seperti dilansir dari Megapolitan.

Istri Ahmad Bahar, Yenni Nur menjelaskan bahwa pihak keluarga sebenarnya telah mengklarifikasi mengenai peretasan ponsel tersebut kepada perwakilan GRIB Jaya yang datang, namun penjelasan beserta bukti-bukti yang disodorkan tidak dihiraukan.

"Tiga atau empat hari yang lalu, HP anak saya di-hack. Ternyata hacker-nya itu mengancam-ancam si Hercules, pakai nomor anak saya," kata Yenni Nur, Istri Ahmad Bahar.

Yenni menyatakan bahwa dua orang dari pihak GRIB Jaya tetap menuduh anaknya sebagai pelaku pengiriman pesan ancaman tersebut meskipun bukti peretasan sudah diperlihatkan.

"Waktu itu ada dua orang dari pihak mereka yang datang mengklarifikasi. Tetap aja katanya, 'Itu kamu yang lakuin'. Lah, mau nunjukin gimana lagi, kita ada bukti-bukti kalau HP kita di-hack. Ya apalagi anak saya perempuan ya, mana mungkin mau urusan yang kayak gitu-gitu," ujar Yenni Nur.

Mengenai awal mula persoalan, Yenni tidak menampik adanya konten video suaminya yang menyinggung Hercules demi membela Amien Rais.

"Awal ininya sih ya ada konten Pak Ahmad Bahar yang menyinggung-menyinggung Hercules. Karena kan Hercules itu waktu itu mengingatkan Pak Amien Rais, sementara Pak Ahmad itu kan emang deket sama Pak Amien. Otomatis aja ya kontennya sih emang rada nyerempet-nyerempet, 'kamu tuh udah waktunya tumbang' gitu ngomong ke Hercules," jelas Yenni Nur.

Rombongan anggota ormas yang datang pada Minggu, 17 Mei 2026 pukul 14.00 WIB akhirnya membawa paksa putri Ahmad Bahar yang berusia 33 tahun karena sang penulis sedang tidak berada di rumah.

"Kemarin jam 14.00 WIB, di rumah cuma ada anak-anak saya, mereka nyari suami saya enggak ada, akhirnya anak saya dipaksa ikut biar suami saya nemuin Hercules di markasnya," kata Yenni Nur.

Saat penggeledahan terjadi, Yenni sedang berada di luar kota sedangkan suaminya dalam perjalanan menyerahkan buku kepada Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, dan sempat hilang kontak.

"Saya terputus kontak sama suami, dia tidak bisa dihubungi handphone-nya," ujar Yenni Nur.

Putri Ahmad Bahar dibawa oleh rombongan dengan didampingi ketua RW setempat sebagai jaminan agar Ahmad Bahar bersedia menemui pihak GRIB Jaya.

"Yang dicari Pak Ahmad, terus sampai anak saya dibawa itu untuk jadi sandera kalau Pak Ahmad belum nemuin mereka, gitu loh. Jadi disuruh datang dulu baru anak saya dipulangin, mana itu pas hari ulang tahun anak saya, sedih," ucap Yenni Nur.

Masalah ini akhirnya dibawa ke Polres Metro Depok dengan pendampingan dari LBH Muhammadiyah, di mana polisi meminta pihak Hercules mengantarkan anak korban ke mapolres pada Senin dini hari.

"Disuruh dianterin ke Polres Depok. Jadi mereka yang suruh nganterin, jadi kita kan udah menang di situ. LBH Muhammadiyah sudah siap juga dampingin. Sekitar pukul 02.00 WIB lah baru sampai itu," ucap Yenni Nur.

Setelah anak korban dipulangkan dengan selamat, kedua belah pihak memutuskan menandatangani surat kesepakatan damai bermaterai.

"Yang jelas sudah selesai ada hitam di atas putih lah bermaterai. Mungkin itu kesepakatan-kesepakatan yang diambil, tapi yang tahu detail isinya suami saya, dia lagi enggak ada juga. Yang penting anak saya sih udah aman kan udah di rumah," ujar Yenni Nur.

Yenni menyayangkan aksi penggerudukan tersebut dan menilai perselisihan ini seharusnya diselesaikan melalui mekanisme hukum.

"Artinya kan kalau kita negara hukum ya udah laporin aja Pak Ahmad gitu kalau dia merasa si Hercules-nya tersinggung apa difitnah. Kan kita negara hukum lah, kenapa masih pakai aksi-aksi premanisme gitu. Bukan menggerebek model-model preman, itu kan udah nggak bisa dibenarkan di negara kita," tutur Yenni Nur.

Di sisi lain, DPP GRIB Jaya memberikan klarifikasi resmi mengenai kehadiran anggotanya di kediaman Ahmad Bahar yang disebut murni sebagai langkah klarifikasi persuasif.

"Terkait kehadiran perwakilan di kediaman pelaku, tindakan tersebut murni merupakan upaya klarifikasi persuasif, yang dibuktikan dengan rekaman video saat Ahmad Bahar dan putrinya memberikan keterangan awal," ujar Marcel Gual, Kabid Humas dan Publikasi DPP GRIB Jaya.

Marcel menambahkan bahwa tindakan meminta Ahmad Bahar datang ke kantor DPP dilakukan demi menjaga kondusivitas lingkungan dan mencegah tindakan anarkistis.

"Sayangnya, Ahmad Bahar dinilai tidak ksatria dan mencoba lepas dari tanggung jawab. Alih-alih hadir secara jantan, ia justru melarikan diri, mematikan telepon genggamnya, dan hanya mengutus putrinya untuk datang ke kantor DPP," kata Marcel Gual.

Langkah mendatangi rumah tersebut diambil setelah Tim Hukum DPP GRIB Jaya mengumpulkan bukti digital terkait aksi doxing massal dari nomor asing yang menyebarkan konten TikTok Ahmad Bahar kepada orang terdekat Hercules.

"Pihak DPP GRIB Jaya menilai tindakan teror digital ini sebagai bentuk intimidasi nyata yang tidak bisa ditoleransi," ujar Marcel Gual.

Artikel terkait

Rekomendasi