GSM Soroti Ketimpangan Kualitas Pendidikan dan Ledakan Jumlah Sekolah

GSM Soroti Ketimpangan Kualitas Pendidikan dan Ledakan Jumlah Sekolah

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) menyoroti fenomena stagnasi kualitas berpikir manusia di tengah masifnya ekspansi infrastruktur pendidikan nasional dalam forum Ngkaji Pendidikan di Yogyakarta pada Sabtu, 9 Mei 2026. Data menunjukkan lonjakan jumlah sekolah dan sarjana tidak berbanding lurus dengan ketajaman daya pikir lulusannya.

Dilansir dari Edukasi, jumlah instansi pendidikan di Indonesia melesat dari 100.000 unit pada 1970 menjadi lebih dari 300.000 unit pada 2020. Pertumbuhan ini dibarengi dengan keberadaan lebih dari 4.000 perguruan tinggi yang menghasilkan sekitar 1,3 juta lulusan sarjana pada tahun 2025.

Pendiri GSM sekaligus dosen Universitas Gadjah Mada, Muhammad Nur Rizal, menyatakan adanya kesenjangan besar antara kuantitas fisik bangunan dengan esensi belajar. Skor PISA 2022 membuktikan kemampuan membaca, sains, dan matematika siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara anggota OECD.

"Sekolah bertambah, tetapi kemampuan berpikir tidak tumbuh," tegas Rizal.

Dosen UGM tersebut menjelaskan bahwa kondisi pendidikan saat ini terjebak dalam rutinitas mekanis tanpa proses belajar substansial atau disebut sebagai schooling without learning. Ia juga membandingkan tingkat literasi sarjana di Jakarta yang setara dengan lulusan SMP di Jepang atau negara-negara Skandinavia.

"jika dibiarkan tanpa refleksi dan kesadaran, sebuah sistem akan bergerak menuju ketidakteraturan dan keruntuhan," tegasnya lagi.

Rizal menekankan pentingnya melatih kesadaran manusia melalui pola berpikir reflektif guna mengatasi tingginya angka perundungan yang mencapai 41 persen. Ia menawarkan konsep metakognisi bernama Saklar Kognitif yang terdiri dari tahap interupsi, observasi, dan rekonstruksi tindakan bagi para pendidik.

Peserta forum, Aji, menilai kegiatan tersebut sebagai ruang langka untuk membangun imajinasi konstruktif bagi para guru. Melalui pengalaman batin, peserta diajak menemukan makna terdalam dalam menjalankan fungsi sekolah di depan kelas.

"Forum ini bukan sekadar tempat transfer materi, tetapi juga transfer energi, makna, dan harapan baru bagi siapa pun yang hadir di dalamnya. Ngkaji Pendidikan mampu membangun imajinasi konstruktif, sehingga peserta tidak hanya memahami persoalan pendidikan secara intelektual, tetapi juga menemukan makna terdalam melalui pengalaman batinnya masing-masing," ungkapnya.

Artikel terkait

Rekomendasi