Hajar Aswad menjadi simbol sakral bagi umat Islam yang tertanam di sudut Ka'bah. Batu mulia yang diyakini berasal dari surga ini selalu dipadati jutaan jemaah haji dan umrah yang ingin mencium atau memberinya isyarat penghormatan.
Namun, seperti dilansir dari Detikcom, batu hitam pekat tersebut memiliki sejarah kelam karena pernah dijarah dan hilang selama 22 tahun dari Makkah. Peristiwa tragis ini diiringi pembantaian massal terhadap umat Islam yang tengah beribadah di Tanah Suci.
Aksi penjarahan Hajar Aswad berlangsung pada tahun 930 M atau 317 H. Kelompok Qaramithah yang dipimpin oleh Sulaiman bin Abu Said al Husain al Janabi, atau Abu Thahir, menjadi aktor utama dalam penyerbuan Tanah Haram tersebut.
Berdasarkan buku 13 Misteri di Kota Mekkah karya Dedi, peristiwa bermula ketika rombongan haji dari Irak pimpinan Manshur ad Dailami tiba di Makkah dengan selamat. Keadaan berubah drastis saat memasuki hari Tarwiyah pada tanggal 8 Zulhijah.
Kelompok Qaramithah yang merupakan sekte Syiah Ismailiyah mendadak memicu huru-hara di Tanah Haram. Mereka merampok harta benda jemaah sekaligus menghalalkan segala cara untuk memerangi umat Islam di sekitar Ka'bah.
Saat pasukannya membantai jemaah yang sedang beribadah, Abu Thahir berdiri menyaksikan di depan pintu Ka'bah dengan pengawalan ketat. Ia kemudian sesumbar mengeklaim dirinya sebagai pencipta sekaligus pembinasa makhluk.
Usai pembantaian, Abu Thahir memerintahkan penumpukan jasad korban untuk dibuang ke dalam sumur zamzam. Sebagian jenazah lainnya dikubur di area Tanah Haram dan kompleks Masjidil Haram.
Kerusakan besar melanda Masjidil Haram setelah kubah sumur zamzam dihancurkan. Pasukan Qaramithah juga mencopot pintu Ka'bah serta merobek kiswah penutupnya di depan umum.
Abu Thahir sempat menyuruh anak buahnya mencabut talang Ka'bah, tetapi urung dilakukan karena orang tersebut mendadak jatuh dan tewas seketika. Pemimpin Qaramithah itu akhirnya fokus memerintahkan pencongkelan Hajar Aswad.
"Mana burung-burung Ababil? Mana bebatuan dari Neraka Sijjil?" ujar Abu Thahir dengan nada menantang.
Abu Thahir kemudian bergerak pulang ke daerah asalnya di Hajr atau Ahsa dengan membawa Hajar Aswad beserta seluruh harta rampasan. Batu dari surga tersebut akhirnya tertahan di sana selama lebih dari dua dekade.
Proses Pengembalian ke Masjidil Haram
Upaya Penebusan yang Ditolak
Umat Islam tidak tinggal diam dan terus mengupayakan pengembalian batu sakral tersebut. Salah satu upaya besar datang dari Amir Bajkam at Turki yang menawarkan uang tebusan sebesar 50 ribu dinar, namun ditolak oleh Abu Thahir.
Kembalinya Batu Suci ke Makkah
Merujuk pada catatan Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah, Hajar Aswad baru dipulangkan setelah 22 tahun berada di bawah kekuasaan Abu Thahir. Momentum pengembalian ini terjadi pada bulan Zulhijah tahun 339 H.
Ibnu Katsir menandai tahun 339 H sebagai masa penuh berkah karena kembalinya Hajar Aswad memicu kegembiraan luar biasa bagi umat Islam. Sebelum tiba di Makkah, orang-orang Qaramithah sempat membawanya ke Kufah.
Batu tersebut digantungkan pada tujuh tiang Masjid Kufah agar dapat disaksikan oleh masyarakat luas. Bersamaan dengan itu, Abu Thahir mengeluarkan surat ketetapan resmi terkait pemulangan tersebut.
"Kami dahulu mengambilnya dengan sebuah perintah. Dan sekarang kami mengembalikannya dengan perintah juga, agar pelaksanaan manasik haji umat menjadi lancar," tulis Abu Thahir.
Hajar Aswad akhirnya diangkut kembali menuju Makkah menggunakan satu kendaraan tunggangan tanpa mengalami hambatan. Batu suci tersebut resmi tiba di tempat asalnya pada bulan Zulkaidah 339 H.