Pemerintah menetapkan Hari Kebangkitan Nasional pada Rabu, 20 Mei 2026, bukan sebagai hari libur resmi bagi masyarakat, meski instansi dan sekolah tetap diwajibkan menggelar upacara bendera. Dilansir dari babelinsight.id, kebijakan tersebut diatur berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 dan diperkuat melalui Surat Keputusan Bersama 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026.
Ketetapan ini membuat seluruh aparatur sipil negara, karyawan swasta, serta pelajar tetap menjalankan aktivitas kerja dan kegiatan belajar mengajar secara normal. Walau demikian, rangkaian kegiatan seremonial seperti upacara di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta, seminar, dan acara bertema nasionalisme tetap diselenggarakan untuk memperkuat rasa persatuan dan patriotisme.
Sementara itu, momentum historis ini dimanfaatkan oleh para pelaku seni di daerah untuk menggelar kegiatan kebudayaan. Dilansir dari niaga.asia, sekitar seribuan seniman dan budayawan dijadwalkan berkumpul di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Kota Samarinda, untuk mengadakan pagelaran seni dan dialog kebangsaan bertema 'Menuju Kaltim yang Lebih Baik, Beradat, Beradab dan Berbudaya'.
Inisiator kegiatan tersebut berasal dari Sanggar Seni Panji Keroan Koetai Bersatoe yang berkolaborasi dengan sejumlah paguyuban seni setempat. Acara kebudayaan ini direncanakan mulai bergulir pada pukul 10.00 WITA, tepat setelah pelaksanaan apel Hari Kebangkitan Nasional di Kantor Gubernur selesai dilaksanakan.
"Kami ingin mengadakan acara ini pas Hari Kebangkitan Nasional, hanya untuk bicara seni. Kebangkitan daripada seni dan budaya Kaltim," ujar Awang Irwan Setiawan, Pembina Sanggar Seni Panji Keroan Koetai Bersatoe pada Sabtu sore (16/5/2026).
Pertunjukan tersebut akan mementaskan aneka kesenian tradisional hingga modern, seperti tari Jepen, tari perang, tarian Kenyah, reog, campursari, serta pertunjukan tarsul. Pengisi acara tidak hanya melibatkan kelompok dewasa, melainkan juga anak-anak dari tingkat TK, SD, hingga para pelajar SMK.
"Intinya pagelaran seni dan budaya dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional untuk Kaltim yang lebih beradab, beradat dan berbudaya," jelas Awang Irwan Setiawan.
Pihak panitia turut menyisipkan agenda flashmob tari Jepen bersama para pengunjung yang hadir di lokasi. Sejauh ini, sembilan paguyuban seni dipastikan ikut berpartisipasi dan jumlah massa yang berkumpul diperkirakan terus bertambah.
"Para pencinta seni termasuk anak-anak juga nanti, ada anak-anak TK, ada anak SD, ada Sakti Borneo juga campuran anak SMK," terang Awang Irwan Setiawan.
Melalui ruang dialog budaya yang disediakan, para seniman lokal berniat menyalurkan aspirasi secara langsung kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Sektor kebudayaan dinilai masih minim mendapatkan ruang ekspresi serta kurang dilibatkan dalam berbagai agenda resmi pemerintahan daerah.
"Mungkin nanti yang hadir bisa 2.000-an lebih," sebut Awang Irwan Setiawan.
Aspirasi ini diharapkan mendapat perhatian khusus dari jajaran pemerintah daerah di bawah kepemimpinan Gubernur Rudy Mas'ud. Pelibatan seniman lokal dipandang krusial guna menghindari kesalahan fatal dalam penerapan tata krama adat saat penyambutan pejabat negara.
"Nah dialog budaya itu, para unek-unek pecinta seni kami minta menyampaikan aspirasi kepada Pemerintah Provinsi Kaltim," kata Awang Irwan Setiawan.
Pihak panitia menegaskan telah mengirimkan surat pemberitahuan resmi mengenai agenda ini kepada pihak Pemprov Kalimantan Timur. Langkah ini diambil secara mandiri agar pemerintah daerah bersedia memberikan ruang kreativitas demi kelestarian identitas budaya daerah.
"Apabila ada acara penyambutan, mengerti tentang tata kramanya. Jangan sampai salah-salah. Seperti kemarin, salah menyematkan atribut Dayak perempuan kepada Menteri PKP Maruarar Sirait dan Mendagri Tito Karnavian ," tutur Awang Irwan Setiawan.
Kurangnya alokasi anggaran dan keterbatasan fasilitas menjadi hambatan utama yang dihadapi oleh para pelaku seni di Bumi Etam selama ini. Padahal, rekam jejak sejarah kerajaan dan adat istiadat di wilayah Kalimantan Timur memiliki urgensi tinggi untuk terus dirawat.
"Karena seni dan budaya ini kurang perhatian saya lihat. Anggarannya sangat kecil sekali. Tempat untuk kami berkreasi pun tidak segampang," tegas Awang Irwan Setiawan.
Di sisi lain, peringatan ini juga diramaikan melalui ruang digital oleh masyarakat luas. Dilansir dari rri.co.id, penyebaran pesan positif dan ucapan inspiratif di media sosial menjadi sarana kolektif untuk merefleksikan nilai-nilai kebangsaan serta menyuntikkan semangat perjuangan dalam kehidupan sehari-hari.