PT Trimegah Bangun Persada Tbk atau Harita Nickel membangun fasilitas rumah belajar informal bagi anak-anak di Pulau Obi, Halmahera Selatan, untuk mengatasi tantangan akses pendidikan dan keterbatasan infrastruktur literasi di wilayah kepulauan Maluku Utara.
Penyediaan ruang belajar tersebut menjadi langkah strategis di tengah perbaikan angka buta aksara penduduk usia 10 tahun ke atas di Maluku Utara yang turun menjadi 1,05 persen pada 2026, sebagaimana dilansir dari Money berdasarkan data Badan Pusat Statistik.
Executive Vice President External Relations Harita Nickel, Latif Supriadi, menjelaskan bahwa inisiatif ini dirancang melalui Program Pemberdayaan Masyarakat bidang pendidikan untuk menciptakan wadah pembelajaran yang inklusif di luar jam sekolah formal.
"Melalui Rumah Belajar ini, kami berharap anak-anak memiliki ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan untuk belajar sekaligus bermain," ujar Latif Supriadi, Executive Vice President External Relations Harita Nickel.
Latif menambahkan bahwa program ini bertujuan melampaui sekadar literasi dasar dengan menyasar pada pengembangan aspek kepribadian serta penggunaan teknologi secara tepat guna bagi generasi muda di sekitar wilayah operasional perusahaan.
"Kami juga ingin membantu membentuk karakter anak agar lebih percaya diri, kreatif, dan bijak dalam memanfaatkan teknologi," lanjut Latif Supriadi, Executive Vice President External Relations Harita Nickel.
Perusahaan hingga saat ini telah meresmikan tiga lokasi, yakni Rumah Belajar Simore di Desa Gambaru, Rumah Belajar Ocimaleo di Desa Ocimaleo, dan Rumah Belajar Nyinga Moi di Desa Fluk yang mulai beroperasi pada 2 Mei 2026.
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Syaiful Bahry, memberikan apresiasi terhadap metode interaktif yang diterapkan, seperti mendongeng dan permainan edukatif, karena dianggap sesuai dengan kebutuhan psikis anak.
"Secara psikologis, anak belajar paling efektif saat merasa aman, dihargai, dan tidak takut salah," jelas Syaiful Bahry, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.
Menurutnya, ketersediaan fasilitas belajar nonformal merupakan elemen krusial dalam membentuk ketahanan mental serta mendukung pengembangan sumber daya manusia di daerah tersebut dalam jangka waktu yang panjang.
"Ruang-ruang kecil seperti ini dapat menjadi fondasi kuat bagi ketahanan mental dan pembangunan manusia jangka panjang," lanjut Syaiful Bahry, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.
Program yang telah menjangkau sekitar 210 siswa ini mendapatkan respon positif dari warga setempat, termasuk orang tua murid yang melihat dampak langsung pada rutinitas harian anak-anak mereka.
"Setiap sore anak-anak datang dengan hati senang. Mereka tidak hanya membaca, tapi juga bermain dan belajar bersama," tutur Hamsiah Drakel, salah satu orang tua siswa.
Warga lainnya, Nadia Abdullah, menekankan pentingnya rumah belajar sebagai alternatif kegiatan positif untuk mengalihkan perhatian anak dari penggunaan gawai yang berlebihan.
"Setiap sore anak-anak datang dengan hati senang. Mereka tidak hanya membaca, tapi juga bermain dan belajar bersama," tutur Nadia Abdullah, warga sekitar.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Maluku Utara, Mulyadi Tutupoho, menilai inisiatif swasta ini sangat membantu pemerintah dalam memperluas jangkauan layanan pendidikan di wilayah yang memiliki kendala geografis.
"Dengan fasilitas belajar yang lengkap dan pendampingan yang konsisten, rumah belajar ini menjadi dukungan nyata bagi upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya di wilayah yang akses pendidikannya masih terbatas," ujar Mulyadi Tutupoho, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Maluku Utara.
Atas inovasi di bidang pendidikan ini, Harita Nickel sebelumnya telah menerima penghargaan Subroto Awards 2025 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai pengakuan atas program pengembangan masyarakat paling inovatif.