Fenomena astronomi hujan meteor Eta Aquarid akan mencapai puncak aktivitasnya di langit Indonesia pada Selasa malam hingga Rabu dini hari, 5-6 Mei 2026. Peristiwa ini terjadi ketika Bumi melintasi sisa debu Komet Halley yang terbakar saat memasuki atmosfer.
Partikel kecil dari komet tersebut menciptakan lintasan cahaya yang kerap disebut masyarakat sebagai bintang jatuh. Berdasarkan laporan laman Space pada Senin (4/5/2026), intensitas meteor yang terlihat sangat bergantung pada posisi geografis pengamat di permukaan Bumi.
Pengamat di belahan bumi bagian selatan berpeluang melihat hingga 50 meteor setiap jam. Sementara itu, wilayah belahan bumi utara diperkirakan hanya akan menyaksikan sekitar 10 sampai 30 meteor per jam selama periode puncak tersebut berlangsung.
Kawasan tropis seperti Indonesia memiliki potensi pengamatan yang cukup baik karena posisi kemiringan wilayahnya terhadap titik radian meteor. Fenomena ini memiliki karakteristik kecepatan tinggi yang mencapai angka 64 kilometer per detik saat meluncur di angkasa.
Laju yang sangat cepat ini menghasilkan jejak cahaya panjang yang terlihat dramatis bagi mata manusia. Namun, visibilitas pengamatan pada tahun ini diprediksi akan mendapat tantangan dari faktor pencahayaan alami satelit Bumi.
Bulan akan berada pada fase waning gibbous dengan tingkat kecerahan mencapai 84 persen saat puncak fenomena terjadi. Cahaya bulan yang mulai terbit sekitar tengah malam berisiko menyamarkan jejak meteor yang redup bagi para pengamat.
Gangguan cahaya ini diperkirakan dapat menurunkan jumlah meteor yang tertangkap mata menjadi kurang dari 10 per jam. Meskipun demikian, Eta Aquarid seringkali menghasilkan meteor fireball yang tetap terlihat jelas di tengah kondisi langit yang cukup terang.
Titik asal meteor atau radian berada di rasi bintang Aquarius, tepatnya di sekitar bintang Zeta Aquarii dan Sadachbia. Waktu pengamatan paling ideal bagi masyarakat di Indonesia adalah sesaat sebelum fajar menyingsing pada tanggal 6 Mei 2026.
Masyarakat dapat menyaksikan fenomena ini tanpa bantuan alat optik seperti teleskop atau teropong. Untuk hasil maksimal, pengamat disarankan memberikan waktu 20 hingga 30 menit agar mata dapat beradaptasi dengan kegelapan total sebelum memulai pemantauan.
Lokasi yang jauh dari polusi cahaya perkotaan sangat direkomendasikan untuk meningkatkan peluang pengamatan. Pandangan sebaiknya diarahkan sekitar 40 derajat dari titik radian menuju arah zenit atau titik tertinggi tepat di atas kepala.