Umat Islam di berbagai wilayah menekankan pentingnya mencari rezeki halal dan memperbanyak amalan pada Jumat, 8 Mei 2026, sebagai upaya meningkatkan ketakwaan dan meraih keberkahan hidup di tengah persaingan dunia. Fokus ibadah ini mencakup edukasi spiritual melalui khutbah Jumat serta penerapan empat amalan utama yang dianjurkan untuk menghapus dosa.
Melalui khutbah Jumat bertema rezeki halal, jamaah diingatkan bahwa nilai keberkahan materi tidak diukur dari jumlahnya, melainkan dari cara perolehannya yang diridhai Allah SWT. Penekanan ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran spiritual masyarakat untuk menjalani kehidupan yang lebih bersih dan tenang menurut laporan Kompas.com.
Teks khutbah tersebut menyoroti peringatan agar manusia tidak menukarkan kejujuran demi keuntungan dunia yang fana, sebagaimana tercantum dalam Al-Baqarah ayat 41. Islam mengajarkan bahwa sumber penghasilan yang masuk ke tubuh akan memengaruhi hati dan kualitas hidup seseorang.
Selain aspek ekonomi, hari Jumat yang dikenal sebagai sayyidul ayyam menjadi momentum bagi umat untuk mengejar pahala maksimal. Dilansir dari Serambinews.com, terdapat empat amalan utama yang pernah ditekankan oleh mendiang Syekh Ali Jaber untuk dikerjakan sepanjang hari mulia ini.
Amalan pertama adalah memperbanyak bacaan shalawat dalam berbagai durasi, baik pendek maupun lengkap, sebagai bentuk kepatuhan atas pesan Rasulullah SAW.
"Rasulullah SAW sendiri memesan kepada kita, perbanyaklah shalawat kepadaku di hari Jumat," ujar Syekh Ali Jaber.
Beliau menegaskan bahwa penggunaan kata tertentu dalam shalawat tidak membatalkan pahala selama dilakukan dengan niat yang tulus.
"Yang penting adalah niat dan istiqamah. Pakai ‘Sayyiduna’ atau tidak, tetap sah dan berpahala," tegas Syekh Ali Jaber.
Amalan kedua yang dianjurkan adalah membaca Surah Al-Kahfi, yang menurut Syekh Ali Jaber dapat dilakukan secara bertahap dalam satu hari agar tidak terasa berat.
"Tidak harus langsung sekaligus. Bisa dibagi-bagi bacanya. Misalnya pagi satu halaman, siang dua halaman, lanjut setelah Ashar hingga selesai," ujarnya.
Bagi umat yang belum lancar membaca Al-Qur'an, beliau menyarankan untuk menyimak murattal melalui perangkat digital sebagai solusi alternatif.
"Boleh simak murattal dari HP atau media lainnya. Orang yang menyimak Al-Qur’an, pahalanya sama seperti yang membaca," tambahnya.
Amalan ketiga melibatkan pemanfaatan waktu mustajab untuk berdoa, khususnya pada satu jam terakhir sebelum waktu Maghrib tiba.
"Para ulama berbeda pendapat. Tapi yang paling kuat dari berbagai riwayat adalah satu jam terakhir sebelum Maghrib," jelas Syekh Ali Jaber.
Beliau memberikan contoh kebiasaan para ulama di Masjid Nabawi yang fokus berdoa menjelang matahari terbenam.
"Kalau saya lihat para ulama dan guru-guru kami di Masjid Nabawi, begitu masuk satu jam terakhir sebelum Maghrib, mereka tinggalkan semua pekerjaan. Masing-masing sibuk berdoa," kisahnya.
Sedekah di waktu subuh menjadi amalan keempat, di mana malaikat turun untuk mendoakan orang yang berinfak agar hartanya dilipatgandakan.
"Satu malaikat mendoakan, ‘Ya Allah, lipatgandakan dan gantikan sedekah orang ini.’ Tapi malaikat yang lain berdoa, ‘Ya Allah, jangan berkahi harta orang yang pelit di subuh ini.’" tutur Syekh Ali Jaber.
Pesan ini menjadi peringatan bagi mereka yang mampu secara finansial untuk tidak bersikap kikir pada waktu istimewa tersebut.
"Kalau tidak mampu, itu uzur. Tapi kalau mampu, dan tidak bersedekah, hati-hati bisa kena doa malaikat," ujarnya.
Sementara itu, Mediakompeten.co.id melaporkan bahwa khutbah Jumat tetap menjadi pilar utama dalam membangun akhlakul karimah melalui tiga unsur yaitu iman, syukur, dan perilaku terpuji. Persiapan materi yang matang oleh para khatib diharapkan mampu menginspirasi perubahan positif pada perilaku harian jamaah sesuai syariat.