IKI GIZ dan KLH Ajak Pelajar Jakarta Belajar Ekosistem Mangrove

IKI GIZ dan KLH Ajak Pelajar Jakarta Belajar Ekosistem Mangrove

Upaya menjaga kelestarian lingkungan di tengah ancaman krisis iklim, abrasi pantai, dan penyusutan ruang terbuka hijau perkotaan memerlukan keterlibatan aktif generasi muda. Remaja perlu memahami mekanisme kerja ekosistem dan kepentingannya bagi masa depan wilayah perkotaan secara langsung.

Merespons kebutuhan tersebut, sebuah kolaborasi dijalin oleh The International Climate Initiative (IKI), Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), dan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH). Seperti dikuti dari Suara, sinergi ini mengajak ratusan pelajar di Jakarta untuk mempelajari peran vital hutan mangrove sebagai pelindung ekologis kota.

Agenda edukasi lapangan yang diselenggarakan di Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk tersebut menghadirkan 120 siswa beserta guru pendamping yang berasal dari berbagai SMA dan SMK di Jakarta. Para peserta tidak sekadar mendengarkan materi di dalam kelas, melainkan langsung mengamati ekosistem pesisir, mengidentifikasi flora dan fauna, serta mendalami fungsi mangrove dalam menahan abrasi.

Lead Communication Unit for Resilient Nature Cooperation Area GIZ Indonesia, Gandabhaskara Saputra, menjelaskan bahwa pemilihan TWA Angke Kapuk didasari oleh statusnya sebagai salah satu contoh krusial ekosistem mangrove urban yang masih bertahan di tengah dinamika Jakarta.

"Kegiatan di TWA Angke Kapuk ini merupakan penutup dari peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional hasil kerja sama GIZ dan Kementerian Lingkungan Hidup dengan memberikan pengalaman dan edukasi pentingnya keanekaragaman hayati bagi generasi muda langsung di lapangan sebagai frontliners menjaga keberlanjutan lingkungan hidup," ujarnya.

Metode pembelajaran langsung di alam terbuka ini diterapkan untuk memperkuat literasi lingkungan sekaligus membangkitkan rasa kepemilikan generasi muda terhadap ekosistem perkotaan. Inisiatif ini selaras dengan peta jalan Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045 yang memposisikan anak muda sebagai penggerak konservasi melalui penguatan wawasan dan tanggung jawab ekologis.

Bagi sejumlah peserta, penjelajahan lapangan ini memberikan sudut pandang baru terkait fungsi hutan payau yang selama ini belum mereka ketahui sepenuhnya. Manfaat edukasi ini dirasakan langsung oleh Vincent Suhardo, salah satu siswa yang berasal dari SMK Yadika 2.

"Saya jadi bisa paham soal mangrove, yang sebelumnya saya tidak tahu. Awalnya saya hanya tahu mangrove itu tumbuh di pinggir laut. Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa mangrove bisa mencegah abrasi, menghadapi perubahan cuaca, dan mampu hidup di tanah berlumpur," katanya.

Pengalaman para siswa ini memperlihatkan bahwa internalisasi kesadaran lingkungan dapat dimulai dari pengenalan ekosistem terdekat secara sederhana. Langkah memahami manfaat nyata suatu ekosistem dan hubungannya dengan ruang hidup sehari-hari menjadi fondasi awal tumbuhnya kepedulian terhadap alam.

Kemitraan antara pihak pemerintah, organisasi pembangunan internasional, serta lembaga pendidikan ini menghadirkan pola pendekatan yang konstruktif dalam merespons tantangan lingkungan global. Fokus program tidak hanya bertumpu pada pemaparan kerusakan alam, melainkan pada penyiapan kapasitas generasi muda sebagai bagian dari solusi masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi