Fenomena El Nino terkuat dalam beberapa dekade terakhir diperkirakan berpotensi melanda pada akhir tahun ini. Berdasarkan laporan prakiraan terbaru dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) yang dirilis pada 14 Mei 2026, peluang berkembangnya fenomena iklim global ini mencapai 82 persen pada periode Mei hingga Juli.
Kondisi ini memicu kekhawatiran global karena dampaknya dapat memicu cuaca ekstrem berupa banjir, kekeringan panjang, hingga ancaman krisis pangan. Bahkan, fenomena ini dikhawatirkan dapat mendorong suhu global pada 2027 mencapai rekor tertinggi baru, seperti dilansir dari Nasional.
Suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah hingga timur saat ini tercatat terus menghangat di atas rata-rata normal. Di wilayah lepas pantai barat Amerika Selatan, kenaikan suhu laut bahkan telah mencapai sekitar 1 derajat Celsius dalam beberapa pekan terakhir, yang mengindikasikan potensi kekuatan El Nino mendatang bisa lebih besar dari periode sebelumnya.
Data NOAA menunjukkan probabilitas El Nino bertahan hingga Desember mencapai 96 persen, dengan peluang kategori "sangat kuat" atau "Super El Nino" sebesar 37 persen. Kategori ini merujuk pada lonjakan suhu permukaan laut Pasifik yang melebihi 2 derajat Celsius di atas rata-rata normal.
Sementara itu, European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) memprediksi suhu laut di kawasan tersebut berpotensi melonjak hingga 3 derajat Celsius di atas normal pada November mendatang. Kondisi ekstrem serupa pernah terjadi pada periode 2015–2016 yang memicu berbagai bencana cuaca di banyak negara.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Deputi Bidang Klimatologi, Ardhasena Sophaheluwakan, menyatakan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan intensif terhadap dinamika suhu muka laut dan atmosfer ini.
"BMKG memprediksi peluang intensitas El Nino mencapai kategori lemah sebesar 100 persen, kategori moderat sebesar 86 persen, dan kategori kuat sebesar 22 persen," ujar Ardhasena.
Ia memaparkan bahwa pemantauan saat ini jauh lebih baik dibandingkan masa lalu ketika ilmu pengetahuan dan sistem peringatan dini belum berkembang.
"Pada saat itu, sains mengenai El Nino belum sepenuhnya berkembang dan belum tersedia sistem monitoring laut maupun peringatan dini," katanya.
Ardhasena mengingatkan bahwa periode yang paling krusial untuk diwaspadai di Indonesia adalah antara Mei hingga Oktober karena bertepatan dengan musim kemarau.
"El Nino bisa berlanjut sampai tahun berikutnya, tetapi dampaknya di Indonesia umumnya paling terasa ketika bertepatan dengan musim kemarau di pertengahan tahun," jelasnya.
Dampak fenomena ini di Indonesia umumnya memicu penurunan curah hujan dan kondisi cuaca yang jauh lebih kering, berbeda dengan wilayah Amerika Latin seperti Peru yang justru berpotensi mengalami banjir besar.
"Yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah gambut yang sangat mudah terbakar saat musim kering berkepanjangan," ujarnya.
Kemunculan Super El Nino juga memicu kekhawatiran di kalangan ilmuwan yang berkaca pada bencana iklim besar tahun 1877 yang sempat memicu kelaparan global hingga tahun 1878.
Kekeringan hebat yang melanda Asia, Afrika, Amerika Selatan, hingga Australia secara bersamaan pada waktu itu mengakibatkan gagal panen massal dan menewaskan lebih dari 50 miuta orang.
"Tidak ada bencana lingkungan yang lebih mematikan sejak saat itu," kata ahli klimatologi dari Columbia University, Deepti Singh.
Meskipun kondisi sosial ekonomi saat ini telah berubah, atmosfer dan lautan modern tercatat jauh lebih hangat dibandingkan tahun 1870-an sehingga risiko yang ditimbulkan bisa menjadi lebih parah.
"Yang berbeda sekarang adalah atmosfer dan lautan kita jauh lebih hangat dibandingkan tahun 1870-an, sehingga dampak ekstrem yang muncul bisa menjadi lebih parah," ujarnya.
Kerugian materiil juga membayangi stabilitas ekonomi global, mengingat peristiwa El Nino 1997–1998 silam pernah menelan kerugian antara 32 hingga 96 miliar dollar AS, atau setara Rp 563,2 triliun hingga Rp 1,69 kuadriliun.
Peramal ENSO NOAA, Nathaniel Johnson, menyebutkan sektor pertanian dan perikanan menjadi area yang paling rentan terhantam, di samping melonjaknya risiko kebakaran hutan dan badai.
Profesor risiko dan ketahanan iklim dari University of Reading, Liz Stephens, turut memperingatkan ancaman kemanusiaan yang lebih besar akibat lonjakan harga pangan di tengah situasi populasi yang rentan.
"Saat ini sudah ada lebih banyak orang yang hidup dalam kemiskinan. Jika hasil panen menurun akibat kekeringan atau banjir terkait El Nino, harga pangan akan semakin melonjak," kata Stephens.
"Karena itu, kita berpotensi menghadapi dampak kemanusiaan yang sangat besar tahun ini, terutama jika krisis di Timur Tengah terus berlanjut," tambah Stephens.
| Dampak El Nino di Indonesia | Potensi Risiko |
|---|---|
| Penurunan curah hujan | Kekeringan |
| Kemarau lebih panjang | Krisis air bersih |
| Kondisi lahan mengering | Karhutla |
| Gangguan pertanian | Penurunan produksi pangan |
| Cuaca lebih panas | Risiko kesehatan meningkat |
| Peristiwa El Nino Besar | Dampak Utama |
|---|---|
| Krisis pangan global, jutaan korban jiwa | Kerugian ekonomi global hingga US$96 miliar |
| Cuaca ekstrem di banyak negara | Kekeringan Afrika dan banjir Brasil |