Misteri hilangnya seluruh kru kapal dagang Amerika, Mary Celeste, yang mengapung tanpa awak di Samudra Atlantik pada 5 Desember 1872 mulai terungkap. Rahasia di balik ikon kapal hantu abad ke-19 ini coba dipecahkan melalui pengujian metode ilmiah terkini, seperti dilansir dari Detik iNET.
Kapal Inggris Dei Gratia pertama kali menemukan Mary Celeste dalam kondisi barang pribadi dan muatan yang utuh tanpa tanda kekerasan. Kapten Benjamin Briggs beserta keluarga dan seluruh kru lenyap misterius, memicu berbagai teori mulai dari serangan bajak laut hingga rumor supranatural.
Penelitian terbaru memperkuat dugaan bahwa ledakan uap alkohol menjadi pemicu utama kepanikan kru. Palka Mary Celeste diketahui ditutup rapat akibat cuaca buruk saat mengangkut lebih dari 1.700 tong etanol pekat, di mana sekitar 300 galon di antaranya diduga merembes dan menguap di ruang tertutup.
Etanol murni memiliki titik nyala 13°C yang memicu terbentuknya campuran mudah terbakar saat kapal memasuki perairan hangat dekat Portugal. Kenaikan suhu tersebut melipatgandakan uap alkohol di dalam palka, sehingga hanya membutuhkan satu percikan api untuk memicu ledakan besar.
Teori ini sempat diragukan karena tidak adanya bekas hangus pada tong kayu maupun struktur kapal. Namun, eksperimen ahli kimia di UCL pada tahun 2006 untuk Channel 5 berhasil membuktikan bahwa ledakan gelombang tekanan tidak selalu meninggalkan bekas bakar.
"What we created was a blowtorch type of explosion. There was a wave of flame, spectacular enough, but behind it, relatively cool air. No soot was left behind and there was no burning or scorching," kata Dr. Andrea Sella, ahli kimia di UCL.
"Given all the facts we have, this replicates conditions on the Mary Celeste. The explosion would have been enough to blow open the hatches and would have been completely terrifying for everyone on board. It's the most plausible explanation," paparnya.
Uji Coba Lanjutan di Tahun 2026
Hipotesis serupa kembali diuji oleh tim ilmuwan dari Universitas Manchester, Jack Rowbotham dan Frank Mair, untuk dokumenter Channel 5. Menggunakan model skala 1:18, mereka mereplikasi kondisi cuaca dan suhu dingin perairan New York hingga suhu hangat Atlantik.
Ketika etanol dihangatkan untuk menyimulasi wilayah Atlantik, percikan api langsung memicu ledakan hebat yang menghasilkan bola api biru bersuhu 2.000°C selama beberapa detik. Ledakan tanpa jejak fisik ini dinilai sudah lebih dari cukup untuk membuat kru kapal panik.
"When you imagine the crew of a ship who probably weren't very well educated, then the idea that in the dark, you are suddenly presented with a blue flash and a blast of heat, and then all the doors blow open on their own, that is deeply terrifying," ujar Sella.
Kondisi mengerikan tersebut diduga membuat kapten segera memerintahkan seluruh orang turun ke sekoci demi menghindari ledakan susulan, atau membuat kru melompat langsung ke laut karena panik.