Ilmuwan Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem dan Tahun Terpanas pada 2026

Ilmuwan Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem dan Tahun Terpanas pada 2026

Kelompok ilmuwan iklim dari World Weather Attribution memberikan peringatan serius mengenai potensi cuaca yang sangat ekstrem sepanjang tahun ini. Seperti dikutip dari Lestari, tahun 2026 berpeluang menjadi tahun terpanas kedua atau bahkan yang paling panas dalam sejarah pencatatan global.

Laporan terbaru menunjukkan suhu permukaan laut saat ini hampir menyentuh level tertinggi yang pernah ada. Kondisi ini diperparah dengan kebakaran hutan yang telah menghanguskan lebih dari 150 juta hektar lahan hanya dalam empat bulan pertama tahun 2026.

Data dari RTE menyebutkan luas lahan yang terbakar tersebut melonjak 50 persen dari rata-rata biasanya. Angka ini bahkan mencapai dua kali lipat dibandingkan luas lahan yang terbakar pada periode yang sama tahun 2024.

Para ilmuwan memprediksi tren cuaca buruk ini akan terus memburuk seiring terbentuknya fenomena alam El Nino yang sangat kuat di Samudra Pasifik. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan terjadinya rekor suhu baru secara terus-menerus.

Dr. Daniel Swain dari California Institute for Water Resources menjelaskan bahwa El Nino kuat dapat mengganggu pola hujan di berbagai benua meski tanpa faktor pemanasan global. Namun, situasi saat ini menjadi jauh lebih berisiko bagi lingkungan.

"Efek ini akan menjadi jauh lebih parah karena pemanasan global yang kita alami saat ini sudah mencapai hampir 1,5 derajat C di tahun 2026," kata Dr. Daniel Swain.

Ia menambahkan bahwa manusia modern belum pernah menghadapi El Nino yang sangat kuat di tengah suhu bumi yang sudah sangat panas. Hal ini meningkatkan risiko banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga tahun 2027.

Ancaman Kebakaran Hutan di Wilayah Tropis

Para ahli menyoroti risiko tinggi kekeringan di wilayah hutan hujan tropis, termasuk Amazon, Oseania, dan sebagian Asia Tenggara. Wilayah yang biasanya lembap kini terancam mengalami kebakaran hutan yang luas dan hebat.

Fenomena ini diprediksi akan berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat luas akibat polusi asap yang menyesakkan. Kebakaran di area yang jarang terbakar sebelumnya menjadi sinyal ketidakseimbangan ekosistem yang nyata.

Bahaya Laten Panas Ekstrem Bagi Kesehatan

Direktur Eksekutif Sunway Centre for Planetary Health, Dr. Jemilah Mahmood, menegaskan bahwa panas berlebih merupakan pembunuh utama. Berbeda dengan badai atau banjir, dampak panas ekstrem sering kali tidak terlihat secara visual di media.

"Panas ekstrem tidak menjadi berita utama seperti bencana lainnya. Ia tidak menghasilkan foto-foto yang memicu bantuan dana darurat. Ia tidak datang dengan nama badai tertentu atau garis banjir yang terlihat," paparnya.

Kematian akibat panas sering terjadi secara diam-diam di dalam rumah, ladang, maupun pada pekerja luar ruangan. Secara resmi, tercatat 546.000 orang meninggal dunia setiap tahun akibat penyebab yang berkaitan dengan suhu panas.

Dr. Jemilah Mahmood memperingatkan bahwa angka kematian tersebut kemungkinan besar lebih tinggi dari data yang dilaporkan. Kesalahan pencatatan sering terjadi, terutama di negara-negara dengan tingkat penghasilan rendah dan menengah.

Suhu panas yang menyengat diketahui memperburuk kualitas udara serta memicu serangan jantung, stroke, dan penyakit pernapasan. Polusi partikel kecil PM2.5 dari kebakaran hutan bahkan dinilai 10 kali lebih berbahaya dibanding asap kendaraan.

Studi Lancet tahun 2024 mengungkapkan bahwa polusi udara dari kebakaran hutan menyebabkan 1,53 juta kematian per tahun. Sebagai perbandingan, asap kebakaran di Australia tahun 2019 menewaskan 417 orang, jauh lebih banyak dari 33 orang yang meninggal langsung akibat api.

Kritik Terhadap Komitmen Iklim Global

Dr. Mahmood menyatakan kekhawatirannya terhadap pemerintah berbagai negara yang dianggap mulai melunakkan janji terkait masalah iklim. Ambisi untuk menangani krisis iklim dinilai mulai berkurang dalam beberapa tahun terakhir.

"Bahasa yang digunakan mulai melunak, ambisinya mulai berkurang, dan beberapa pihak bersikap seolah-olah krisis iklim adalah bab yang bisa kita tutup begitu saja. Atau setidaknya ditunda sampai periode pemilu berikutnya," kata Dr. Mahmood.

Organisasi Meteorologi Dunia mencatat bahwa planet saat ini berada dalam kondisi yang paling tidak seimbang sepanjang sejarah. Sementara itu, Dr. Friederike Otto dari World Weather Attribution menekankan perlunya tindakan nyata daripada sekadar panik berlebihan.

"El Niño adalah fenomena alam biasa yang datang dan pergi. Sebaliknya, perubahan iklim justru akan terus memburuk selama kita tidak berhenti membakar bahan bakar fosil," ujar Dr. Friederike Otto.

Ia menekankan bahwa pengetahuan dan teknologi untuk beralih dari bahan bakar fosil sudah tersedia. Menurutnya, kekhawatiran terhadap perubahan iklim seharusnya diubah menjadi langkah konkret untuk mencapai emisi nol bersih demi masa depan bumi.

Artikel terkait

Rekomendasi