Imam Masjid Nabawi Serukan Persatuan Umat Islam dalam Khutbah Arafah

Imam Masjid Nabawi Serukan Persatuan Umat Islam dalam Khutbah Arafah

Puncak pelaksanaan ibadah haji 1447 Hijriah di Padang Arafah dihadiri oleh jutaan jemaah Muslim yang datang dari berbagai penjuru dunia. Momentum wukuf tahun ini menjadi wadah penyampaian pesan krusial mengenai pentingnya merekatkan persatuan umat Islam, seperti dilansir dari Cahaya.

Kutipan pesan kedamaian tersebut menggema dalam Khutbah Arafah tahunan yang berlangsung di Masjid Namirah pada Selasa (26/5/2026). Di hadapan lebih dari 1,5 juta jemaah yang memadati lokasi, Syekh Ali bin Abdulrahman Al Hudhaifi selaku Imam dan Khatib Masjid Nabawi memimpin jalannya khutbah.

Melalui khutbah tersebut, jemaah diingatkan untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT serta menjaga kesucian ibadah haji. Pelaksanaan seluruh rangkaian haji diimbau agar tetap tertib, damai, serta sepenuhnya terbebas dari perpecahan maupun kepentingan politik.

Ibadah haji dipandang sebagai cerminan nyata dari keharmonisan, solidaritas, serta kerja sama global masyarakat Muslim. Meskipun terpisahkan oleh perbedaan bahasa, kebangsaan, dan latar belakang etnis, jutaan manusia tetap beribadah bersama sebagai sesama Muslim.

Keselamatan yang sejati bagi seorang mukmin disebut dapat diraih melalui kekuatan iman, ketaatan, amal saleh, serta konsistensi menjauhi dosa. Penegasan mengenai rukun Islam ini menjadi pengingat penting bagi seluruh jemaah untuk memperkuat pondasi spiritual mereka.

Rangkaian khutbah yang diawali pujian kepada Allah SWT dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW ini turut mengulas kedahsyatan Hari Kebangkitan. Jemaah diajak untuk menjadikan ketakwaan, kesabaran, dan rasa syukur sebagai bekal utama menuju akhirat dengan mengesakan Allah SWT.

Larangan Slogan Politik dalam Manasik Haji

Syekh Al Hudhaifi memberikan penekanan khusus terkait batasan perilaku dan ucapan yang wajib dipatuhi oleh setiap jemaah selama berada di Tanah Suci.

“Tidak boleh ada perkataan kotor, perselisihan, slogan politik, maupun seruan golongan selama pelaksanaan haji,” kata Syekh Al Hudhaifi.

Fokus utama ibadah haji harus dikembalikan pada pem pemantapan ketakwaan, kerendahan hati, akhlak mulia, serta kepatuhan pada ajaran Nabi Muhammad SAW. Nilai-nilai kasih sayang dan tolong-menolong antarumat mewujud nyata melalui aktivitas berbagi makanan kurban serta kebaikan sikap.

Keagungan Hari Arafah dan Ketertiban Ibadah

Hari Arafah diposisikan sebagai salah satu momentum paling agung dalam ajaran Islam, di mana Allah SWT membanggakan para jemaah di hadapan malaikat. Pada hari mulia ini pula, ayat Al-Qur’an mengenai kesempurnaan agama dan kecukupan nikmat diturunkan.

Seluruh jemaah diimbau untuk mengikuti tata cara manasik sesuai sunnah, mulai dari menjamak dan mengqashar salat di Arafah. Pergerakan menuju Muzdalifah dan Mina juga harus dilakukan dengan tenang, tertib, serta senantiasa memperbanyak zikir.

Kepatuhan terhadap regulasi pergerakan yang dikeluarkan oleh otoritas setempat menjadi poin penting demi menjamin keselamatan dan kelancaran bersama. Jemaah juga diajak memanfaatkan waktu terbaik ini untuk mengintensifkan doa demi kebaikan dan persatuan umat Islam sedunia.

Artikel terkait

Rekomendasi