Pemerintah Indonesia berkomitmen memperkuat kedaulatan energi di wilayah perbatasan melalui perluasan interkoneksi listrik subkawasan ASEAN untuk menjangkau daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Langkah strategis ini ditegaskan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam pertemuan Special BIMP-EAGA Leaders' Summit di Filipina, Kamis (7/5).
Sebagaimana dilansir dari Suara, kolaborasi yang melibatkan Indonesia, Brunei, Malaysia, dan Filipina ini bertujuan menyediakan energi bersih yang terjangkau bagi masyarakat di wilayah terpencil. Upaya ini menitikberatkan pada pengembangan energi baru terbarukan (EBT) serta program elektrifikasi pedesaan guna memicu pertumbuhan ekonomi lokal.
Presiden Prabowo Subianto turut mendesak percepatan realisasi visi BIMP-EAGA 2035 dalam forum tersebut. Salah satu poin utamanya adalah pembangunan Trans Borneo Power Grid sebagai proyek jaringan listrik besar di Pulau Kalimantan yang diharapkan mampu mengefisiensi distribusi energi lintas negara.
"Prioritas kita jelas, melindungi mata pencaharian rakyat. BIMP-EAGA harus adaptif terhadap dinamika global," tegas Presiden Prabowo Subianto.
Melalui penguatan infrastruktur lintas batas ini, kementerian terkait memproyeksikan stabilitas rantai pasok energi di kawasan Asia Tenggara akan semakin kokoh. Upaya ini sekaligus ditujukan untuk mengeliminasi ketimpangan akses listrik yang selama ini menjadi kendala utama pembangunan di pelosok daerah.