Pakar Ingatkan Potensi Indonesia Jadi Pusat Judi Online Asia Tenggara

Pakar Ingatkan Potensi Indonesia Jadi Pusat Judi Online Asia Tenggara

Pakar keamanan siber dari CISSReC, Pratama Dahlian Persadha, memperingatkan risiko Indonesia bertransformasi menjadi lokasi aman atau safe haven baru bagi sindikat judi online internasional di kawasan Asia Tenggara. Peringatan ini muncul menyusul penggerebekan markas perjudian lintas negara di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, oleh pihak kepolisian.

Operasi penindakan yang dilakukan Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri bersama Polda Metro Jaya pada Sabtu (9/5/2026) tersebut berhasil mengamankan ratusan orang. Dilansir dari Megapolitan, kepolisian menangkap 321 warga negara asing (WNA) dan menetapkan 275 orang di antaranya sebagai tersangka atas dugaan keterlibatan operasional judi online.

Pratama menjelaskan bahwa pergeseran lokasi operasional ini merupakan pola yang lazim terjadi setelah adanya tindakan tegas di negara lain seperti Kamboja. Menurutnya, jaringan kriminal transnasional ini cenderung mencari wilayah baru yang pengawasannya dianggap masih longgar untuk melanjutkan kegiatan mereka.

"Jadi masalah judi online ini memang menjadi masalah di banyak negara. Kemarin di Kamboja habis-habis kan, ditutup, kemudian ditangkap besar-besaran. Nah, akhirnya mereka jadi pindah kemana-mana. Ini memang kejahatan transnasional," kata Pratama, dikutip dari Kompas TV, Senin (11/5/2026).

Pratama menilai bahwa meskipun operasi penindakan dilakukan, rantai kejahatan ini seringkali tidak sepenuhnya terputus karena keberadaan para anggotanya yang masih tersebar luas. Hal inilah yang mendorong para pelaku untuk merelokasi pusat kegiatan mereka ke Indonesia.

"Yang jadi masalah, orang-orangnya masih ada. Tidak semuanya ditangkap. Akhirnya mereka mencari tempat yang dianggap aman untuk beroperasi. Nah, mereka kemudian memilih Indonesia," lanjut Pratama.

Kekhawatiran Pratama didasari pada besarnya skala operasional yang bisa dijalankan oleh sindikat ini dengan menyewa gedung dan mempekerjakan ratusan orang. Ia menegaskan pentingnya langkah antisipasi agar Indonesia tidak benar-benar menjadi pusat kendali baru bagi jaringan ilegal tersebut.

"Jangan sampai Indonesia menjadi safe haven untuk operasi judi online Asia Tenggara," ujar Pratama, Pakar Keamanan Siber CISSReC.

Terkait ratusan orang yang ditangkap di Jakarta Barat, Pratama berpendapat bahwa mayoritas dari mereka hanyalah pekerja di tingkat operasional seperti admin dan layanan pelanggan. Ia mendorong kepolisian untuk mengejar elemen-elemen yang berada di puncak struktur organisasi.

"Dari sekitar 320 orang itu, levelnya bermacam-macam. Belum tentu mereka mastermind-nya," kata Pratama.

Pratama menekankan bahwa investigasi lanjutan harus diarahkan untuk membongkar sosok di balik layar, termasuk pemilik platform dan penyedia fasilitas keuangan. Penggunaan teknologi forensik digital pada barang bukti yang disita dianggap menjadi kunci utama dalam menelusuri aliran instruksi dan dana.

"Yang perlu diperdalam itu siapa pemodalnya, siapa pemilik platform-nya, siapa penyedia rekeningnya," ujar Pratama.

Analisis mendalam terhadap aset digital yang disita, seperti komputer dan telepon seluler, sangat diperlukan untuk memetakan struktur organisasi secara utuh. Langkah ini juga dapat membantu pihak berwenang mengikuti jejak transaksi keuangan yang dilakukan oleh sindikat tersebut.

"Selain follow the money, dari alat komunikasi dan komputer itu bisa dilakukan digital forensik," kata Pratama.

Selain masalah struktur organisasi, Pratama menyoroti betapa mudahnya sistem judi online dibangun kembali meski telah digerebek atau diblokir. Kemampuan teknis para pelaku memungkinkan mereka menciptakan sistem cadangan atau kloning dalam waktu yang sangat singkat.

"Misalnya sekarang digerebek, mereka hanya butuh waktu dua atau tiga jam untuk cloning sistem," ujar Pratama.

Pratama juga memberikan catatan kritis terhadap efektivitas pemblokiran domain atau situs web yang dilakukan pemerintah selama ini. Ia menilai pertumbuhan domain baru seringkali jauh lebih cepat dibandingkan kecepatan proses pemblokiran oleh pihak berwenang.

"Sekarang diblokir sejuta, nanti malam muncul dua juta lagi," kata Pratama.

Selain aspek teknis, celah dalam sistem keuangan domestik juga menjadi perhatian besar bagi CISSReC. Pratama mempertanyakan kemampuan bank dalam mendeteksi transaksi mencurigakan yang memiliki pola yang sangat khas dan berlangsung secara konsisten.

"Tidak mungkin mereka menggunakan rekening luar negeri semua, pasti ada rekening Indonesia," ujar Pratama.

Ia berpendapat bahwa bank seharusnya memiliki kapabilitas untuk mengidentifikasi rekening-rekening yang digunakan untuk setoran judi berdasarkan frekuensi dan nilai transaksi yang masuk. Pratama mendesak agar peran sektor perbankan lebih diperketat dalam menutup akses bagi para sindikat tersebut.

"Siapa yang menyediakan rekening itu? Pakai bank mana? Kenapa bank diam saja? Padahal bank sebenarnya bisa mendeteksi rekening yang digunakan untuk deposit judi online karena polanya jelas, transaksinya kecil-kecil, jumlahnya banyak, dan berlangsung 24 jam. Hal-hal seperti itu yang nanti bisa diungkap," kata Pratama.

Dalam kasus di Hayam Wuruk, Polri telah menyita 75 domain situs judi serta barang bukti berupa perangkat elektronik dan uang tunai mencapai Rp 1,9 miliar. Penelusuran terhadap aliran dana dan jaringan pelaku masih terus dikembangkan oleh tim gabungan Bareskrim Polri.

Artikel terkait

Rekomendasi