Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Muhamad Syukur, S.P., M.Si, menciptakan varietas cabai baru bernama Magda IPB yang memiliki tingkat kepedasan luar biasa. Penemuan hasil riset sejak 2019 ini secara resmi diperkenalkan pada Rabu (1/4/2026) sebagaimana dilansir dari Edukasi.
Varietas tersebut merupakan hasil rekayasa genetik melalui persilangan tanaman lokal dengan varietas introduksi luar negeri. Proses pemuliaan ini menggabungkan karakteristik unggul dari cabai Katokkon asal Sulawesi Selatan dengan Habanero Francisca.
"Menyilangkan antara (cabai) Katokkon dengan Habanero Francisca introduksi dari luar. Katokkon dari Sulawesi Selatan sebagai sumber genetik lokal, kemudian kita gabungkan dengan yang dari luar. Habanero Francisca warnanya agak oranye dan buahnya lebat," tutur Prof. Syukur.
Secara klasifikasi botani, Magda IPB masuk ke dalam spesies Capsicum Chinense yang memiliki profil berbeda dibandingkan cabai konsumsi umum di pasar Indonesia. Keunggulan utamanya terletak pada konsentrasi rasa pedas yang sangat tinggi.
"(Tingkat kepedasan) rawit itu maksimumnya 100.000 SHU. Magda itu 500.000, Jadi maksimumnya 1 banding 5. Sementara rawit Indonesia kan ada yang 50.000 SHU. Jadi kalau berbanding dengan 500.000 berarti kan 10 kali. Artinya, 5 sampai 10 kali lebih pedas daripada rawit yang biasa kita konsumsi," jelas Prof. Syukur.
Nama Magda diambil sebagai bentuk apresiasi terhadap YouTuber kuliner Magdalenaf yang aktif mempromosikan komoditas cabai nusantara. Prof. Syukur menilai dedikasi figur publik terhadap sektor pertanian merupakan hal yang langka sehingga layak diberikan penghargaan melalui penamaan varietas.
"Saya kenal Mbak Magda sudah beberapa saat yang lalu ya, beberapa waktu yang lalu dia ke rumah. Dan saya lihat dia sangat getol giat untuk mempopulerkan, mengeksplor tentang cabai-cabai Indonesia. Sehingga menurut saya pas ya untuk diberi nama Magda, untuk memberikan apresiasi," ungkap Prof. Syukur.
Karakteristik fisik cabai ini cukup unik karena memiliki warna buah peach dan bentuk yang menyerupai buah cherry. Nama tersebut dipilih secara spontan saat pertemuan kedua pihak berlangsung beberapa waktu lalu.
"Secara spontan waktu itu sebetulnya saya berikan nama Magda karena memang belum ada nama untuk calon varietas tersebut," tutur Prof. Syukur lagi.
Pengembangan varietas super pedas ini didorong oleh menyusutnya lahan pertanian di tengah meningkatnya jumlah penduduk. Dengan tingkat kepedasan tinggi, volume penggunaan cabai untuk mencapai rasa pedas yang sama diharapkan bisa berkurang.
"Tidak mungkin untuk menambah lahan untuk mencukupi kebutuhan konsumsi cabai. Jadi alternatifnya adalah jumlah cabainya tetap tapi kepedasannya meningkat sehingga kebutuhannya menjadi lebih sedikit dari yang seharusnya," ucap Prof. Syukur.
Selain faktor efisiensi lahan, riset ini didukung oleh budaya konsumsi masyarakat di beberapa wilayah Indonesia yang menyukai rasa pedas ekstrem. Potensi pasar di wilayah seperti Kalimantan dan Sulawesi Selatan menjadi salah satu pertimbangan utama.
"Karena biasa dikonsumsi, berarti cabai yang pedasnya tinggi itu tidak masalah bagi kita untuk mengonsumsinya," ujar Prof. Syukur.
Manfaat lain dari cabai Magda adalah kandungan Capsaicin tinggi yang berpotensi sebagai bahan baku industri biofarmaka. Kandungan ini sangat diminati pasar internasional, termasuk Korea Selatan, untuk pembuatan alat penghangat tubuh atau hot pack.
"Mereka pernah impor dari Indonesia tapi ternyata yang rawit itu Capsaicin-nya kurang. Kalau rawit itu kan 50.000 sampai 100.000 SHU. Yang dia minta adalah 350.000 sampai 500.000 SHU itu yang pas, seperti yang saya rakit ini," jelas Prof. Syukur.
Saat ini, varietas cabai Magda sedang dalam proses pendaftaran di Kementerian Pertanian. Tahapan tersebut wajib dilalui sebelum benih cabai ini dapat diproduksi dan dipasarkan secara komersial kepada masyarakat luas.