Hubungan geopolitik antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat kini berpeluang mengalami perubahan besar. Dilansir dari Suara, Teheran dilaporkan telah menyetujui rancangan kesepakatan damai komprehensif untuk mengakhiri konfrontasi militer dengan Washington.
Langkah strategis ini juga mencakup komitmen untuk memulihkan jalur pelayaran internasional di koridor Selat Hormuz. Informasi mengenai draf perdamaian tersebut pertama kali dipublikasikan lewat laporan eksklusif media The New York Times pada Sabtu (23/5/2026).
Kabar mengenai perkembangan positif ini langsung berdampak pada pergerakan pasar komoditas. Pada Minggu (24/5/2026) pagi, harga minyak mentah dunia perlahan turun hingga berada di kisaran US$ 97, sementara minyak jenis Brent bertahan pada angka US$ 103.
Berdasarkan keterangan dari tiga pejabat teras di pemerintahan Iran, usulan traktat ini dirancang guna meredam konflik bersenjata di seluruh lini perbatasan. Upaya deeskalasi tersebut termasuk menghentikan konfrontasi yang selama ini terjadi di kawasan Lebanon.
Fokus utama dari draf perjanjian ini berada pada pemulihan jalur perdagangan maritim di Selat Hormuz yang sempat terganggu. Merujuk laporan Anadolu, Amerika Serikat bersedia mencabut status blokade laut yang mengisolasi wilayah perairan Iran sebagai bentuk kompensasi timbal balik.
Sebaliknya, pihak Teheran wajib memberikan jaminan kelancaran lalu lintas bagi kapal komersial asing yang melintasi kawasan tersebut. Iran juga dilarang memungut bea lintas ilegal ataupun melakukan ancaman penyitaan terhadap armada laut yang lewat.
Kebijakan pemulihan koridor laut ini diharapkan dapat memberikan kepastian dan stabilitas bagi pasokan serta rantai pasok minyak mentah global. Selain sektor maritim, draf negosiasi tersebut turut mengatur pemulihan kondisi finansial Teheran.
Pemerintah Amerika Serikat dikabarkan bersedia mencairkan kembali aset keuangan milik Iran senilai 25 miliar dolar AS atau setara kurang lebih Rp400 triliun. Dana melimpah tersebut sudah sekian lama dibekukan pada berbagai lembaga perbankan luar negeri.
Penundaan Isu Nuklir dan Peran Mediator Internasional
Meskipun kesepakatan makro berhasil disetujui, kedua negara memilih untuk bersikap realistis terkait perdebatan program pengayaan nuklir Teheran. Isu sensitif yang kerap memicu kebuntuan itu sengaja dipisahkan dari draf perdamaian ini.
Pembahasan mendalam mengenai program nuklir baru akan dijadwalkan ulang pada forum bilateral khusus. Pertemuan lanjutan tersebut rencananya bakal digelar dalam kurun waktu 30 hingga 60 hari ke depan.
Keberhasilan merumuskan kerangka damai ini tidak lepas dari diplomasi tingkat tinggi yang dijalankan oleh Korps Diplomatik Pakistan dan Qatar. Kedua negara bertindak sebagai mediator netral yang menjembatani komunikasi antara Washington dan Teheran selama berbulan-bulan.
Menyusul publikasi laporan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump segera memberikan konfirmasi positif langsung dari Gedung Putih. Ia membenarkan bahwa kerangka besar perjanjian damai dengan Iran telah selesai dirundingkan.
"Kesepakatan damai sebagian besar telah dinegosiasikan," tegas Trump seraya menambahkan bahwa tim delegasi kedua negara saat ini tinggal merampungkan beberapa detail dan klausul akhir sebelum dokumen tersebut ditandatangani secara resmi.