Iran Ancam AS di Tengah Ketegangan Selat Hormuz

Iran Ancam AS di Tengah Ketegangan Selat Hormuz

Iran mengancam akan melawan blokade angkatan laut Amerika Serikat dengan memperingatkan bahwa Teluk Oman dapat berubah menjadi kuburan kapal jika ketegangan terus meningkat di jalur perairan strategis tersebut.

Pernyataan keras itu disampaikan oleh Anggota Dewan Kemaslahatan Iran, Mayjen Mohsen Rezaei, melalui siaran televisi pemerintah Iran pada Minggu (17/5) sebagai respons atas blokade laut AS sejak 13 April 2026.

"Saran saya kepada AS adalah mundurlah sebelum Teluk Oman berubah menjadi kuburan bagi kapal-kapal Anda. Jika tidak, maka yang kami pahami adalah bahwa blokade laut merupakan tindakan perang dan meresponsnya adalah hak alami kami," kata Anggota Dewan Kemaslahatan Iran, Mayjen Mohsen Rezaei.

Rezaei menegaskan bahwa kesabaran yang ditunjukkan oleh Teheran selama ini bukan berarti mereka menerima tekanan militer asing.

"Jika kami telah bersabar hingga sekarang, maka itu bukan berarti kami menerimanya," ucap Anggota Dewan Kemaslahatan Iran, Mayjen Mohsen Rezaei.

Lebih lanjut, Rezaei mempertanyakan kehadiran militer AS yang dinilainya sudah tidak memiliki pembenaran logis setelah runtuhnya Uni Soviet.

"Amerika datang ke sini dan membawa kapal-kapal perangnya. Siapa musuh mereka? Dulu mereka mengatakan datang untuk menghadapi Uni Soviet. Uni Soviet sudah tidak ada lagi," kata Anggota Dewan Kemaslahatan Iran, Mayjen Mohsen Rezaei.

Ia memastikan arus perdagangan komersial di kawasan tersebut tidak akan terganggu, melainkan hanya membatasi pergerakan militer yang mengancam stabilitas.

"Selat Hormuz terbuka untuk perdagangan, tetapi akan ditutup bagi penumpukan militer dan segala upaya yang mengganggu keamanan," tegas Anggota Dewan Kemaslahatan Iran, Mayjen Mohsen Rezaei.

Di sisi lain, pengamat luar negeri menilai diplomasi AS yang melibatkan kekuatan regional lain seperti Tiongkok belum tentu membuahkan hasil optimal.

Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala, dalam tayangan Top News Metro TV pada Sabtu (16/5) menilai Teheran tidak akan mudah tunduk pada tekanan pihak luar.

“Andaikan saja nanti Tiongkok meminta Iran akan membuka Selat Hormuz, pasti ada saja permintaan Iran kepada Tiongkok,” ujar Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala.

Menurut Djumala, Iran menuntut keadilan posisi karena AS yang memulai konflik ini, sehingga pencabutan blokade menjadi syarat utama sebelum pembukaan jalur maritim dilakukan.

“Karena dia (AS) yang memulai, jangan saya yang ditekan untuk membuka Selat Hormuz. Cabut dulu blokade laut di Teluk Oman, baru saya akan buka Selat Hormuz,” katanya Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengeklaim mendapat tawaran bantuan dari Presiden Tiongkok Xi Jinping untuk menyelesaikan sengketa ini.

"Presiden Xi ingin melihat kesepakatan tercapai. Dia memang ingin melihat kesepakatan tercapai. Dan dia menawarkan, katanya, jika saya dapat membantu sekecil apa pun, saya ingin membantu. Lihat, siapa pun yang membeli minyak sebanyak itu jelas memiliki semacam hubungan dengan mereka. Tapi dia berkata, saya ingin sekali membantu, jika saya bisa membantu sekecil apa pun, dia ingin melihat Selat Hormuz dibuka," ujar Presiden AS, Donald Trump.

Hingga saat ini, ketegangan yang bermula dari serangan AS dan Israel pada 28 Februari tersebut masih membuat kapal-kapal tanker tertahan dengan pengawasan ketat dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.

Artikel terkait

Rekomendasi