Proses negosiasi perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat dilaporkan menghadapi hambatan besar dan menemui jalan buntu terkait masalah persediaan uranium yang diperkaya milik Teheran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan situasi tersebut di sela-sela pertemuan menteri luar negeri BRICS di New Delhi, India, pada Jumat, 15 Mei 2026.
Kondisi ini diperparah oleh aksi blokade laut Amerika Serikat di Laut Arab serta Teluk Oman yang terus berlangsung pasca-gencatan senjata sejak awal April lalu.
"On the reality, tidak ada solusi militer untuk apa pun yang berkaitan dengan Iran," kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran seperti dikutip kalsel.antaranews.com.
Pihak Iran menyatakan komitmen pada diplomasi di tengah situasi gencatan senjata yang tidak stabil setelah pecahnya perang terbuka yang melibatkan pasukan Amerika Serikat dan Israel melawan Teheran sejak 28 Februari 2026.
"Kami tidak percaya pada Amerika. Ini adalah fakta, dan ini adalah hambatan utama dalam upaya diplomatik apa pun," tambah Abbas Araghchi.
Ketidakpercayaan Teheran menguat karena Washington dinilai kerap mengirimkan sikap yang membingungkan dalam waktu singkat.
"Terkadang dalam satu hari kami menerima dua pesan berbeda," kata Abbas Araghchi.
Mengenai isu material nuklir yang sensitif, kedua negara akhirnya sepakat untuk menunda pembahasan perkara tersebut ke tahapan negosiasi berikutnya.
"Masalah material yang diperkaya kami sangat rumit, dan kami sekarang telah sampai pada kesimpulan dengan AS bahwa karena sangat sulit, kami hampir menemui jalan buntu pada masalah khusus ini," kata Abbas Araghchi.
Upaya mediasi yang dipimpin oleh Islamabad juga diakui mengalami tekanan berat akibat perilaku politik dari pihak Washington.
"Proses mediasi oleh Pakistan belum gagal, tetapi berada dalam jalur yang sangat sulit, terutama karena perilaku Amerika dan ketidakpercayaan yang ada di antara kita," kata Abbas Araghchi.
Iran menyambut baik keterlibatan diplomatik dari China yang dinilai memiliki niat baik dan rekam jejak positif dalam meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
"China telah membantu di masa lalu dalam pemulihan hubungan antara Iran dan Arab Saudi," kata Abbas Araghchi.
Terkait keamanan maritim, jalur pelayaran di Selat Hormuz ditegaskan tetap terbuka bagi aktivitas perdagangan internasional.
"Sejauh yang kami ketahui, Selat Hormuz terbuka, dan semua kapal dapat melewatinya," kata Abbas Araghchi.
Araghchi menambahkan bahwa kapal komersial yang melintas harus berkoordinasi demi keselamatan akibat sisa-sisa ranjau akibat konflik.
"Selat tersebut terletak di perairan teritorial Iran dan Oman. Tidak ada perairan internasional di antaranya," kata Abbas Araghchi.
Mengenai kemitraan dengan India, perdagangan bilateral tercatat menurun drastis dari angka sebelum sanksi ekonomi dijatuhkan oleh Washington.
"Sebelum sanksi-sanksi itu, kami biasa memiliki bisnis dan perdagangan senilai lebih dari 20 miliar dolar AS dengan India," kata Abbas Araghchi.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesabarannya menghadapi ketegangan dengan Iran sudah mulai habis.
"Kami telah menyelesaikan banyak masalah berbeda yang tidak akan mampu diselesaikan orang lain," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat seperti dikutip Reuters setelah bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Dalam wawancara terpisah dengan Fox News, Trump menegaskan permintaannya agar Iran segera menyepakati perjanjian perdamaian baru.
"I am not going to be patient much longer. They have to make a deal," kata Donald Trump.
Trump menyatakan urusan penyitaan cadangan uranium Iran bukan hal krusial bagi pertahanan militer, melainkan sebuah manuver politik.
"I don't think it's necessary except from a public relations standpoint," kata Donald Trump.
Trump berpendapat pencapaian tersebut akan memberikan dampak positif bagi citra pemerintahannya di mata publik global.
"I actually just feel better if I get it. But I think it's more for public relations than anything else," kata Donald Trump.
Trump juga membuka peluang untuk mengebom Iran kembali jika material tersebut gagal diambil alih.
"Pilihan lain yang bisa kami lakukan adalah mengebom (Iran) lagi. Tetapi saya akan merasa lebih baik jika kami berhasil mendapatkannya (uranium Iran), dan kami akan mendapatkannya," kata Donald Trump.
Trump mengindikasikan kelonggaran baru dengan menyatakan kesediaan menerima penghentian program nuklir Iran dalam jangka waktu tertentu.
“20 tahun cukup, namun level jaminan harus dari mereka, dengan kata lain harus 20 tahun yang nyata,” kata Donald Trump dikutip dari BBC.