Uni Emirat Arab (UEA) kembali menjadi sasaran serangan udara berupa rudal dan pesawat nirawak (drone) pada Selasa (5/5/2026), yang mengakibatkan kerusakan pada fasilitas vital di Fujairah. Kementerian Pertahanan UEA menduga kuat bahwa serangan tersebut diluncurkan oleh pihak Iran.
Garda Revolusi Iran (IRGC) segera memberikan respons tegas terkait tuduhan yang diarahkan kepada mereka pada Selasa (5/5/2026) malam. Pihak Teheran menyatakan bahwa laporan mengenai keterlibatan militer mereka dalam insiden tersebut sepenuhnya tidak berdasar.
"Project Freedom" kata IRGC melalui laporan video.tribunnews.com.
Narasi pembelaan ini muncul setelah serangkaian serangan udara yang kembali memanas pasca-periode gencatan senjata di kawasan tersebut. Meskipun militer UEA berhasil mencegat mayoritas dari 15 rudal balistik yang masuk, dampak dari serpihan maupun drone tetap memicu kebakaran serius di pusat distribusi energi Fujairah.
Pusat energi di Fujairah memegang peranan krusial bagi keamanan energi global dengan kapasitas distribusi mencapai 1,7 juta barel per hari. Lokasi strategis ini menjadi jalur utama ekspor minyak yang memungkinkan pengiriman tanpa harus melewati Selat Hormuz yang sering dilanda konflik.
Insiden tersebut dilaporkan telah melukai sedikitnya tiga warga negara India yang berada di lokasi kejadian. Pemerintah India merespons dengan menyatakan bahwa serangan yang menyasar warga sipil dan fasilitas publik tersebut merupakan tindakan yang tidak dapat diterima.
Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) yang sempat meluncurkan misi pengamanan jalur laut tetap memantau perkembangan situasi di lapangan. Kendati terjadi eskalasi, Washington menilai kesepakatan gencatan senjata secara teknis masih berlaku di antara pihak-pihak yang bertikai.
Menteri Pertahanan AS memberikan penegasan bahwa tindakan militer yang diambil pasukannya beberapa waktu lalu di kawasan tersebut murni bersifat perlindungan sementara. Ia juga mengonfirmasi bahwa personel militer Amerika Serikat tidak memasuki kedaulatan wilayah Iran untuk menghindari perluasan konflik.
Data menunjukkan bahwa selama lima minggu masa konflik sebelumnya, UEA telah menjadi target serangan yang sangat intensif dibandingkan negara tetangganya. Lebih dari 2.800 proyektil berupa rudal dan drone tercatat telah diarahkan ke wilayah negara federasi tersebut.