Iran Kecam Serangan Militer Amerika Serikat di Selat Hormuz

Iran Kecam Serangan Militer Amerika Serikat di Selat Hormuz

Proses diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat di Qatar terancam setelah Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras serangan militer Washington di wilayah Iran selatan pada Senin, 25 Mei 2026. Teheran menilai aksi sepihak tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang tengah berjalan.

Kecaman tersebut dilayangkan setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa pasukannya telah menggempur situs rudal serta kapal-kapal Iran. Pihak Amerika Serikat menuduh armada Iran mencoba memasang ranjau di kawasan Teluk, sementara Garda Revolusi Iran membalas dengan menembaki pesawat Washington yang masuk ke wilayah udara mereka.

Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan sikap mereka melalui sebuah pernyataan resmi yang dirilis menyusul insiden bersenjata di wilayah Hormozgan tersebut.

"Tentara teroris AS, yang melanjutkan tindakan ilegal dan tidak beralasan sejak gencatan senjata... telah, dalam 48 jam terakhir, melakukan pelanggaran berat terhadap gencatan senjata di wilayah Hormozgan," kata Kemlu Iran dalam sebuah pernyataan, Selasa (26/5/2026).

Pemerintah Teheran juga menyatakan tidak akan membiarkan kejahatan apa pun tanpa balasan dan tidak akan ragu untuk membela bangsa Iran. Ketegangan ini terjadi di tengah upaya delegasi tingkat tinggi Iran di Qatar yang berusaha menegosiasikan akhir dari perang yang telah pecah sejak 28 Februari.

Di sisi lain, pihak militer Amerika Serikat berdalih bahwa operasi bersenjata di Iran bagian selatan tersebut murni merupakan tindakan defensif demi keselamatan personel mereka di lapangan.

Serangan dilakukan "untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran," tetapi pihak militer "menggunakan pengendalian diri selama gencatan senjata yang sedang berlangsung," kata Juru Bicara Komando Pusat Amerika Serikat Tim Hawkins dalam sebuah pernyataan.

Hingga kini, rincian teknis pelaksanaan operasi militer tersebut belum dirilis ke publik. Dampak nyata dari eskalasi ini terhadap kelanjutan meja perundingan di Qatar juga masih belum dapat dipastikan secara jelas.

Meskipun situasi di lapangan kembali memanas, Pemerintah Amerika Serikat tetap optimistis bahwa jalur diplomasi untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran masih terbuka lebar.

"Ada beberapa pembicaraan yang berlangsung di Qatar hari ini, jadi kita lihat apakah kita bisa membuat kemajuan," kata Marco Rubio kepada jurnalis ketika kunjungan resmi ke India.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat tersebut menambahkan bahwa pembahasan draf perjanjian memang membutuhkan waktu karena adanya diskusi yang mendalam mengenai poin-poin spesifik dalam dokumen awal.

"Saya pikir ada banyak pembicaraan berulang tentang bahasa spesifik dalam dokumen awal, jadi akan memakan waktu beberapa hari," sambungnya. "Presiden telah menyatakan keinginannya untuk menyelesaikan itu. Dia akan membuat kesepakatan yang bagus atau tidak ada kesepakatan sama sekali."

Artikel terkait

Rekomendasi