Pemerintah Iran menyerahkan proposal perdamaian terbaru berisi 14 poin kepada pihak Pakistan untuk diteruskan kepada Amerika Serikat sebagai bagian dari upaya mengakhiri ketegangan di Timur Tengah. Langkah diplomatik ini dibahas dalam pertemuan bilateral di Teheran pada Senin (18/5), seperti dilansir dari Medcom yang mengutip Antara.
Pertemuan strategis tersebut menghadapkan Menteri Urusan Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi dengan Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi. Selain menggodok dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah, kedua belah pihak juga memanfaatkan momentum ini guna memperkokoh kerja sama bilateral yang lebih luas.
Jalur komunikasi tidak langsung kini dipegang oleh Pakistan yang berfungsi menjembatani pertukaran usulan syarat penyelesaian konflik antara pihak-pihak terkait. Hubungan diplomatik ini berjalan intensif setelah perundingan tidak langsung antara Teheran dan Washington di Islamabad pada 11-12 April tidak membuahkan kesepakatan akhir, meskipun gencatan senjata sempat disepakati bersama Israel pada 8 April.
Apresiasi tinggi disampaikan oleh Seyed Abbas Araghchi atas peran aktif Pakistan dalam mempromosikan jalur diplomasi demi meredakan eskalasi. Kendati demikian, Araghchi memberikan catatan kritis terhadap sikap Amerika Serikat yang dinilai tidak konsisten dalam memenuhi komitmen, sehingga menjadi penghalang utama bagi proses perdamaian.
Kunjungan kerja selama dua hari di Teheran juga dimanfaatkan Mohsin Naqvi untuk berdialog dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf serta Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni. Melalui rangkaian pertemuan tersebut, Naqvi menegaskan kembali komitmen penuh Pakistan untuk terus meningkatkan dan mempererat hubungan bilateral dengan Iran.