Militer Iran Serang Armada AS di Teluk Oman Pasca Pelumpuhan Tanker

Militer Iran Serang Armada AS di Teluk Oman Pasca Pelumpuhan Tanker

Angkatan bersenjata Iran meluncurkan serangan rudal balistik dan drone terhadap armada Angkatan Laut Amerika Serikat di Teluk Oman pada Kamis (7/5/2026). Aksi balasan atas pelumpuhan kapal tanker Iran sehari sebelumnya ini memicu kekhawatiran berakhirnya kesepakatan gencatan senjata bilateral, sebagaimana dilansir dari Suara.

Eskalasi dimulai ketika Komando Pusat AS (CENTCOM) melumpuhkan kapal tanker berbendera Iran pada Rabu (6/5). Menanggapi hal tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengerahkan kekuatan udara dan laut yang menyebabkan tiga kapal perusak AS dilaporkan mundur setelah mengalami kerusakan akibat serangan.

Pihak militer AS membalas dengan melancarkan serangan udara ke infrastruktur militer Iran di Qeshm dan Bandar Abbas. Meskipun terjadi baku tembak yang intens, pejabat senior militer Amerika Serikat menegaskan bahwa operasi pertahanan ini bukan merupakan upaya untuk memulai perang skala penuh.

Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan gencatan senjata. Serangan tersebut menurutnya menyasar wilayah pantai pelabuhan Khamir, Sirik, Pulau Qeshm, serta dua kapal milik Iran.

"bandit" dan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata ujar Ebrahim Zolfaghari, Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya.

Zolfaghari menambahkan bahwa militer Iran memberikan respons cepat dengan menyerang kapal perang Amerika di sebelah timur Selat Hormuz serta selatan pelabuhan Chabahar. Pihak Iran mengklaim serangan tersebut memberikan dampak kerusakan yang cukup signifikan bagi armada Amerika Serikat.

Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) memberikan keterangan resmi mengenai operasi militer mereka di wilayah tersebut. CENTCOM menyatakan tindakan mereka murni bersifat defensif terhadap ancaman yang muncul.

"menghilangkan ancaman yang masuk dan menargetkan fasilitas militer Iran tempat serangan dilakukan terhadap pasukan AS." kata Komando Pusat AS (CENTCOM).

Presiden Donald Trump turut memberikan pernyataan mengenai status hubungan kedua negara pasca insiden berdarah tersebut. Trump menekankan pentingnya komitmen damai permanen dari pihak Teheran demi mencegah terjadinya kekerasan yang lebih luas di kawasan tersebut.

"gencatan senjata secara teknis masih berlaku," ujar Donald Trump, Presiden.

Pakar dari Quincy Institute, Trita Parsi, memberikan analisis mengenai posisi sulit yang dihadapi oleh pemerintah Iran dalam dinamika konflik ini. Parsi menyoroti adanya persepsi ketidakadilan dalam penerapan aturan gencatan senjata oleh pihak Amerika Serikat.

"Persepsi Iran adalah mereka dilarang membalas, namun jika AS memutuskan untuk menembak, hal itu dianggap bukan pelanggaran gencatan senjata. Ini sangat sulit diterima oleh pihak Iran," jelas Trita Parsi, Pakar dari Quincy Institute.

Konflik ini berdampak langsung pada stabilitas pasar energi global akibat gangguan di Selat Hormuz. Jalur distribusi minyak dan LNG yang tersumbat menyebabkan harga Minyak Brent menembus angka psikologis 102,7 dolar per barel dan WTI naik ke level 97,0 dolar per barel.

Daftar Harga Minyak Dunia Pasca Konflik
Jenis MinyakHarga Per Barel (USD)Status
Minyak Mentah (WTI)97,0Meningkat
Minyak Brent102,7Meningkat

Meskipun situasi sempat memanas, laporan terbaru dari media Rusia Sputnik menyebutkan aktivitas di Selat Hormuz mulai berangsur normal. Kota-kota pesisir Iran dilaporkan kembali kondusif pada Jumat pagi setelah terjadi kontak senjata yang intensif semalam sebelumnya.

Artikel terkait

Rekomendasi