Pemerintah Iran resmi menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dikonfirmasi wafat pada 1 Maret 2026 akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang terjadi pada 28 Februari 2026.
Berdasarkan informasi yang dilansir dari Caritahu, pengumuman duka ini menandai dimulainya era baru di Iran setelah wafatnya tokoh yang telah memimpin selama 37 tahun tersebut. Selain masa duka, pemerintah juga menetapkan libur kerja publik selama tujuh hari sebagai bentuk penghormatan tertinggi.
Kematian tokoh berpengaruh ini langsung memicu hari berkabung nasional yang dikenal sebagai Chehelom dalam bahasa Persia atau Arba'een dalam tradisi Syiah. Selama periode ini, bendera nasional dikibarkan setengah tiang, acara hiburan dibatasi, dan warga menggelar prosesi duka massal di Teheran serta kota-kota besar lainnya.
Periode berkabung selama 40 hari ini merupakan durasi yang paling khas dan simbolis dalam ajaran Islam Syiah serta budaya Persia. Hari ke-40 dianggap sebagai penutup periode berkabung intensif sebelum masyarakat secara bertahap kembali ke kehidupan normal.
Upacara khusus seperti ziarah ke makam, pembacaan Al-Qur'an, doa bersama, makan bersama, dan prosesi besar biasanya diadakan pada hari ke-40 tersebut. Peringatan panjang ini ditujukan untuk menunjukkan kesetiaan serta solidaritas umat bagi tokoh penting yang wafat sebagai martir.
Dalam tradisi Iran dan Syiah, ritual duka cita juga dilaksanakan pada hari ketiga dan ketujuh setelah kematian, berbeda dengan budaya Sunni yang biasanya menetapkan masa berkabung lebih singkat selama tiga hari hingga maksimal satu minggu. Selama masa duka ini, keluarga dekat umumnya mengenakan pakaian gelap dan menghindari kegiatan yang bersifat riang.
Prosesi doa dan penghormatan kolektif saat ini terus berlangsung di berbagai wilayah Iran, termasuk kota Mashhad, dengan melibatkan ribuan warga yang membawa foto sang pemimpin.