Penutupan Selat Hormuz bagi pengerahan kekuatan militer asing ditegaskan oleh Iran sebagai respons atas blokade angkatan laut Amerika Serikat (AS) yang berlangsung sejak 13 April lalu. Blokade maritim tersebut memicu ancaman keras dari Teheran terhadap armada militer Washington di kawasan strategis Teluk Oman.
Anadolu Agency melaporkan pada Senin (18/5/2026) bahwa penegasan tersebut disampaikan oleh Mayor Jenderal Mohsen Rezaei selaku penasihat militer utama pemimpin tertinggi Iran sekaligus anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran. Iran menyatakan kesiapannya untuk menghadapi tindakan sepihak dari AS.
"Saran saya kepada AS secara militer adalah mundur sebelum Teluk Oman berubah menjadi kuburan bagi kapal-kapal Anda," kata Mayor Jenderal Mohsen Rezaei dalam siaran televisi pemerintah Iran pada Minggu (17/5).
Rezaei menjelaskan bahwa tindakan pemblokiran pelabuhan oleh militer AS sudah dikategorikan sebagai bentuk agresi terbuka terhadap kedaulatan negaranya.
"Jika tidak, pemahaman kami adalah blokade laut merupakan tindakan perang, dan menanggapinya adalah hak natural kami," tegas Mayor Jenderal Mohsen Rezaei.
Pihak militer Iran juga menyatakan bahwa sikap defensif yang mereka tunjukkan selama ketegangan berlangsung bukan berarti mereka tunduk pada tekanan barat.
"Jika kami telah bersabar sampai sekarang, itu tidak berarti kami telah menerimanya," ujar Mayor Jenderal Mohsen Rezaei.
Dirinya juga mempertanyakan legalitas serta urgensi kehadiran kapal-kapal perang Washington di kawasan Teluk yang dinilai sudah kehilangan relevansi geopolitik.
"Amerika datang ke sini dan membawa kapal perangnya. Siapa musuhnya? Dulu, mereka mengatakan datang untuk menghadapi Uni Soviet. Uni Soviet sudah tidak ada lagi," ucap Mayor Jenderal Mohsen Rezaei.
Rezaei menjamin bahwa aktivitas ekonomi global di jalur perairan internasional tersebut tidak akan diganggu oleh pihak Teheran selama tidak ada provokasi militer.
"Selat Hormuz terbuka untuk perdagangan, tetapi akan ditutup untuk pengerahan kekuatan militer dan upaya-upaya apa pun untuk menggoyahkan keamanan," tegas Mayor Jenderal Mohsen Rezaei.
Eskalasi di koridor maritim ini merupakan imbas dari serangan besar bersama yang diluncurkan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Serangan itu dibalas Iran dengan meluncurkan gelombang rudal serta drone ke Israel dan pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.
Pertempuran sempat ditangguhkan melalui gencatan senjata bermediasi Pakistan sejak 8 April lalu, namun perundingan damai permanen berujung gagal. Status gencatan senjata kemudian diperpanjang secara sepihak tanpa batas waktu oleh Presiden AS Donald Trump dengan syarat blokade laut Iran tetap berjalan.