Iran Tuduh Amerika Serikat Rekayasa Kebohongan Demi Justifikasi Perang

Iran Tuduh Amerika Serikat Rekayasa Kebohongan Demi Justifikasi Perang

Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat bakal merekayasa kebohongan baru demi menjustifikasi kelanjutan provokasi perang di kawasan Timur Tengah pada Minggu (17/5/2026).

Tuduhan tersebut dilayangkan seiring ketegangan yang meningkat setelah adanya pembatasan navigasi kapal di Selat Hormuz oleh pihak Teheran sejak awal Maret lalu.

Langkah tegas pembatasan pergerakan kapal itu diambil Iran menyusul agresi militer yang dilakukan oleh pasukan Amerika Serikat dan Israel sebelumnya, sebagaimana dilansir dari Kompas.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei menyatakan bahwa Washington menggunakan dalih stabilitas pasokan energi untuk memicu konflik bersenjata.

"Kebohongan besar selanjutnya yang dilancarkan untuk membenarkan ‘perang pilihan’ ilegal mereka adalah klaim bahwa mereka ‘menjaga perdamaian dan stabilitas di pasar energi global’," kata Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Pihak Teheran menilai tindakan militer sepihak dari blok sekutu tersebut justru menjadi faktor utama yang merusak stabilitas jalur pasokan komoditas global.

"Namun kenyataannya, justru provokasi perang yang sembrono dari rezim AS dan Israel-lah yang menghancurkan proses diplomatik yang menjanjikan," ucap Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Menurut Baghaei, taktik memutarbalikkan fakta sengaja diadopsi oleh otoritas Amerika Serikat guna mengalihkan opini publik dunia dari tindakan agresi mereka sendiri.

"And, melalui agresi militer tanpa provokasi terhadap Iran, dengan sengaja menyuntikkan rasa tidak aman ke jalur energi vital, hanya untuk kemudian menuduh Iran melakukan destabilisasi, guna mempraktikkan pepatah terkenal Goebbels, ‘Tuduh orang lain melakukan apa yang Anda sendiri lakukan’," tambah Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Pernyataan diplomat senior Iran tersebut sekaligus merespons ancaman operasi militer terbaru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dipicu oleh melonjaknya harga energi dunia.

"Ini adalah taktik sinis mereka yang sudah biasa: menciptakan krisis dan perang, kemudian meningkatkan eskalasi lebih lanjut di bawah panji mulia ‘memulihkan stabilitas’ dan ‘membela perdamaian’," tutur Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Baghaei menggarisbawahi bahwa narasi perdamaian yang digaungkan oleh pihak oposisi hanya kedok dari kehancuran massal.

"Mereka menciptakan kehancuran dan menyebutnya perdamaian," tutup Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Saat ini, Iran dilaporkan tetap memberlakukan syarat-syarat ketat bagi setiap kapal yang ingin melintasi kawasan Selat Hormuz.

Artikel terkait

Rekomendasi