ADA ironi yang sering datang terlambat dalam politik: orang baru mengerti arti “kawan” setelah kekuasaan selesai membagikan kursi.
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) lahir dengan wajah muda. Dan kemudaan, dalam politik, acap bukan cuma perkara usia.
Ia juga bisa berarti keyakinan bahwa dunia lama harus diteriaki. Bahwa moralitas selalu berada di pihak yang belum berkuasa.
Anak muda percaya kritik adalah keberanian. Sebab mereka belum tahu: kekuasaan punya gula yang lengket di lidah.
Dulu PSI hadir dengan suara nyaring. Tentang anti-kemunafikan, anti-oligarki, anti-politik usang. Partai yang ingin tampak berbeda dari ruang tua yang penuh asap kompromi.
Namun, sejarah politik, seperti hujan musim panjang, sering meluruhkan warna poster paling cerah. Ketika kekuasaan datang, orang berubah pelan-pelan. Tidak sekaligus.
Mula-mula hanya duduk lebih dekat ke pusat cahaya. Sesudah itu mulai menikmati hangatnya. Lalu merasa tak mungkin lagi hidup tanpa sorot lampu itu.
Barangkali di situlah tragedi Grace Natalie hari ini menjadi lebih manusiawi ketimbang politis.
Ia mendirikan rumah bernama "solidaritas".
Namun, rumah politik sering dibangun bukan oleh persahabatan, melainkan oleh kepentingan yang kebetulan tidur serumah. Dan kepentingan, kita tahu, adalah tamu yang paling cepat pergi ketika badai datang.
Maka ketika PSI mengambil jarak, ada semacam pelajaran pahit yang barangkali baru tampak sekarang oleh pendirinya sendiri: bahwa orang-orang yang berkumpul dalam sebuah partai belum tentu berkumpul dalam kesetiaan.
Mereka mungkin datang karena momentum, karena peluang, karena aroma kekuasaan yang sedang matang.
Kemudaan partai itu, yang dahulu dielu-elukan sebagai energi perubahan, akhirnya memperlihatkan sisi lain: semacam kemanjaan politik.
Seperti anak kecil yang dulu menangis meminta permen, lalu setelah mendapatkannya menggenggam terlalu erat dan takut kehilangannya.
Kritik yang dulu lantang kepada penguasa mendadak menjadi bisik-bisik hati-hati ketika kursi kekuasaan sudah ikut diduduki.
Robert Michels pernah menyebutnya the iron law of oligarchy (1911): setiap gerakan yang lahir untuk melawan kekuasaan lambat laun akan meniru bentuk kekuasaan yang dahulu ia benci.
Barangkali karena manusia memang mudah berubah ketika berada terlalu dekat dengan pusat kendali.
Maka politik sering berakhir sebagai ironi: mereka yang dahulu datang membawa pembaruan akhirnya sibuk menjaga kenyamanan.
Dan Grace, ironisnya, tampaknya baru benar-benar mengenal watak orang-orang di sekelilingnya justru ketika ia sedang jatuh.
PSI, partai yang didirikannya, berlepas diri dari kasus yang sedang membelitnya, kendati secara formal ia masih menjabat sebagai Wakil Dewan Pembina.
“Kami pastikan tidak akan memberikan bantuan hukum secara kelembagaan kepartaian, karena ini harus dipertanggungjawabkan secara pribadi (oleh Grace Natalie),” ujar Ketua Harian PSI, Ahmad Ali, dalam jumpa pers, Selasa (5/5).
Politik memang aneh: ia memperkenalkan banyak teman saat kita naik, lalu memperlihatkan siapa sahabat ketika kita turun.
Di luar semua benar-salah perkara yang menimpanya, ada satu kesunyian yang mungkin kini sedang ia rasakan: bahwa kesetiaan dalam politik ternyata jauh lebih langka daripada slogan tentang solidaritas itu sendiri.
Hemingway mungkin benar tentang keberanian sebagai “grace under pressure”. Namun, tekanan paling berat bukanlah serangan lawan. Tekanan paling sunyi justru datang ketika orang-orang yang dahulu berdiri di samping kita perlahan mundur, menjaga jarak, lalu berpura-pura tak pernah ikut membangun cerita yang sama.