Sebanyak lebih dari 50 kapal yang membawa sekitar 430 relawan dalam misi Global Sumud Flotilla diadang oleh otoritas Israel saat berlayar dari Turki untuk menembus blokade di Jalur Gaza, Palestina.
Misi kemanusiaan tersebut melibatkan para aktivis dari 40 negara berbeda, termasuk Jerman, Amerika Serikat, Australia, Argentina, Bahrain, Brasil, Aljazair, Indonesia, Maroko, Prancis, Afrika Selatan, Inggris, Irlandia, Spanyol, Italia, Kanada, Mesir, Pakistan, Malaysia, Tunisia, Oman, dan Selandia Baru.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa negaranya memiliki hak penuh untuk melakukan pencegahan terhadap pergerakan kapal-kapal tersebut di wilayah perairannya.
"Israel memiliki hak penuh untuk mencegah armada provokatif pendukung teroris Hamas memasuki perairan teritorial kami dan mencapai Gaza," ucap Netanyahu dalam pernyataan resmi di media sosial X pada Rabu (20/5).
Netanyahu juga menyoroti tindakan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir yang mengunggah video penahanan para aktivis tersebut dalam kondisi terikat hingga memicu kecaman internasional.
"Cara Menteri Ben Gvir menangani para aktivis armada tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai dan norma-norma Israel. Saya telah menginstruksikan pihak berwenang terkait untuk mendeportasi para provokator sesegera mungkin," kata Netanyahu.
Kritik keras terhadap Ben-Gvir juga datang dari internal pemerintahan Israel karena rekaman video tersebut memperlihatkan kekerasan oleh tentara terhadap relawan yang dipaksa berlutut.
"Anda telah menghancurkan upaya luar biasa, profesional, dan sukses yang sudah dilakukan begitu banyak orang, dari tentara IDF hingga staf Kementerian Luar Negeri dan banyak lainnya," kata Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar di X.
Sa'ar menyayangkan publikasi tersebut karena dinilai mempermalukan institusi negara di mata dunia.
"Anda bukanlah wajah Israel," ujar Sa'ar.