Militer Israel melancarkan serangan udara dan drone di beberapa lokasi Lebanon selatan pada Kamis (4/6/2026) beberapa jam setelah pengumuman kesepakatan gencatan senjata bersyarat antara Israel dan Lebanon di Washington. Serangan tersebut dilaporkan oleh media resmi Lebanon, National News Agency (NNA), dan menyebabkan sedikitnya satu korban jiwa di sepanjang jalan wilayah selatan.
Dilansir AFP, kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat tersebut mewajibkan penghentian total serangan oleh kelompok milisi Hizbullah. Kedua belah pihak juga setuju membentuk zona percontohan agar angkatan bersenjata Lebanon memegang kendali eksklusif dan mengesampingkan aktor non-negara. Namun, eskalasi tetap terjadi karena militer Israel juga memperluas invasi dengan merebut Kastil Beaufort yang strategis di Lebanon selatan.
Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben Gvir, mengkritik kesepakatan itu, menyebutnya sebagai "kesalahan serius".
Sebelum pengumuman gencatan senjata tersebut, Hizbullah sempat menembakkan rentetan roket serta drone ke arah tentara Israel di Qantara dan dekat Kastil Beaufort. Di sisi lain, Juru Bicara PBB Stephane Dujarric memaparkan data pelanggaran wilayah yang terjadi pada Rabu (3/6) berdasarkan laporan Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL).
"Kemarin UNIFIL mendeteksi 69 pelanggaran wilayah udara Lebanon di kedua sisi. Pasukan penjaga perdamaian melaporkan sekitar 25 serangan udara oleh pesawat tempur IDF [Pasukan Pertahanan Israel], dan dua serangan roket oleh helikopter IDF," katanya.
Menurut Dujarric, misi UNIFIL mendeteksi 569 proyektil dari posisi IDF serta 14 peluncuran proyektil dari arah utara yang diduga milik Hizbullah. Dua posisi UNIFIL di sektor timur juga terkena pantulan amunisi, dan serangan terhadap layanan kesehatan di Kegubernuran Selatan turut menghantam ambulans.
"Di Lebanon... serangan terhadap layanan kesehatan terus berlanjut pada level yang mengkhawatirkan. Kemarin, serangan di Kegubernuran Selatan menghantam sebuah ambulans sehingga menewaskan dua paramedis serta melukai satu paramedis lainnya secara serius," katanya.
Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi bahwa kesepakatan dalam pembicaraan tingkat duta besar ini hanya berlaku efektif jika Hizbullah menghentikan aksi militer dan menarik seluruh personelnya dari selatan Sungai Litani. WHO mencatat lebih dari 600 orang telah tewas di Lebanon sejak upaya gencatan senjata sebelumnya gagal pada 17 April lalu.