Militer Israel meluncurkan serangan udara dan artileri ke pinggiran selatan Beirut serta wilayah Lebanon selatan dan timur pada Rabu (6/5/2026) yang menewaskan sedikitnya 17 orang. Operasi militer ini menandai pertama kalinya wilayah pinggiran ibu kota tersebut digempur sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan pada pertengahan April lalu.
Salah satu korban jiwa dalam serangan di wilayah Ghobeiri tersebut diidentifikasi sebagai pejabat tinggi militer dari kelompok Hizbullah. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberikan konfirmasi mengenai target operasi militer yang dilakukan oleh pasukannya di wilayah yang menjadi basis kuat kelompok tersebut.
"komandan pasukan Radwan Hizbullah" kata Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Pihak internal Hizbullah mengonfirmasi bahwa salah satu pemimpin unit elit mereka menjadi korban dalam serangan tersebut. Berdasarkan laporan AFP, seorang sumber yang dekat dengan organisasi tersebut memberikan keterangan mengenai identitas korban yang tewas.
"Malek Ballout, komandan operasi di pasukan Radwan" kata sumber yang dekat dengan Hizbullah.
Kawasan Beirut dan sekitarnya tercatat relatif tenang sejak 8 April setelah serangan besar-besaran Israel sebelumnya merenggut lebih dari 350 nyawa. Namun, eskalasi kembali meningkat meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyatakan adanya peluang besar untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran.
Data dari Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan dampak fatal dari konflik yang telah berlangsung sejak awal Maret ini. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 2.715 orang telah dinyatakan tewas akibat rangkaian serangan militer Israel di berbagai wilayah Lebanon.
Hizbullah sendiri mulai terlibat dalam konflik ini sejak 2 Maret sebagai bentuk dukungan terhadap sekutunya, Iran. Intensitas serangan yang terus berlanjut telah memaksa lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi dari kediaman mereka, terutama yang berlokasi di wilayah selatan, timur, dan pinggiran selatan Beirut.
Meskipun gencatan senjata secara resmi telah dimulai pada 17 April, stabilitas di wilayah tersebut belum sepenuhnya tercapai. Dilansir dari National News Agency, Israel masih terus melakukan pemboman rutin di wilayah selatan yang kemudian dibalas oleh Hizbullah dengan serangan terhadap pasukan darat Israel.