Umat Islam di berbagai penjuru dunia tengah bersiap menyongsong hari Arafah yang menjadi salah satu momentum paling sakral dalam kalender Hijriah. Dilansir dari Detikcom, hari istimewa ini bukan sekadar puncak bagi jemaah haji, melainkan juga peluang pahala besar bagi muslim yang tidak sedang di Tanah Suci.
Hari Arafah merupakan waktu di mana seluruh jemaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Sebagaimana ditegaskan dalam buku 12 Bulan Mulia karya Abdurrahman Ahmad As, momen ini jatuh pada tanggal 9 Zulhijah, tepat di sepuluh hari pertama bulan tersebut.
Eksistensi hari Arafah menjadi penentu keabsahan ibadah haji karena wukuf merupakan rukun yang paling utama. Rasulullah SAW bahkan secara tegas menyebutkan bahwa haji adalah Arafah, yang menandakan betapa krusialnya waktu ini dalam prosesi ibadah haji.
Selain bagi jemaah, Allah SWT juga menjanjikan pembebasan dari api neraka bagi hamba-Nya pada hari tersebut. Mengenai hal ini, terdapat penjelasan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Tiada hari ketika dibebaskannya ahli neraka dengan begitu banyak daripada hari Arafah, karena sesungguhnya Allah menghampiri para malaikat kemudian membangga-banggakan di hadapan mereka dan berfirman: 'Apakah yang dikehendaki mereka itu?" (HR Muslim, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah)
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia yang dirilis Kementerian Agama (Kemenag) RI, hari Arafah diprediksi jatuh pada Selasa, 26 Mei 2026. Penetapan ini merujuk pada posisi 9 Zulhijah atau sehari sebelum perayaan Idul Adha.
Penting untuk dicatat bahwa dalam sistem kalender Hijriah, pergantian hari dimulai saat matahari terbenam. Dengan demikian, suasana hari Arafah secara spiritual sudah dimulai sejak Senin malam, 25 Mei 2026, tepat setelah waktu magrib tiba.
Meski telah ada prediksi kalender, penetapan resmi masih harus menunggu hasil sidang isbat yang digelar pemerintah. Sidang tersebut baru akan dilaksanakan pada akhir bulan Zulkaidah untuk menentukan awal bulan Zulhijah secara akurat.
Keutamaan dan Hukum Puasa Sunnah Arafah
Amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak melaksanakan haji adalah menjalankan puasa sunnah Arafah. Merujuk pada buku Fiqih karya Hasbiyallah, puasa ini dianggap sangat afdal karena dilakukan bersamaan dengan waktu wukuf di Tanah Suci.
Keistimewaan puasa ini dijelaskan dalam hadits dari Abu Qatadah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
صَوْمُ يَوْمٍ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَا ضِيَةً وَ مُسْتَقْبَلَةً وَصَوْمُ عَا شُوْرَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَا ضِيَةٌ
Artinya: "Puasa pada hari Arafah dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yaitu tahun yang telah lalu dan tahun yang akan datang. Dan puasa hari Asyura menghapuskan dosa tahun yang lalu." (HR Jama'ah kecuali Bukhari dan Tirmidzi)
Imam Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dalam Riyadhus Shalihin. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa puasa tersebut mampu melebur dosa setahun yang telah lewat dan setahun yang akan datang bagi mereka yang menjalankannya.
Namun, para ulama menyepakati bahwa anjuran puasa ini hanya berlaku bagi muslim yang tidak sedang berhaji. Bagi jemaah yang sedang wukuf, hukumnya makruh karena dikhawatirkan dapat melemahkan fisik saat beribadah, sesuai larangan Rasulullah SAW dalam riwayat Abu Hurairah RA.
Tata Cara dan Bacaan Niat
Prosedur pelaksanaan puasa Arafah secara teknis sama dengan puasa sunnah lainnya. Langkahnya meliputi niat yang tulus, makan sahur sebelum fajar, serta menjaga diri dari segala hal yang membatalkan puasa maupun perilaku buruk hingga waktu berbuka.
Umat Islam juga disarankan untuk memperbanyak zikir dan doa selama menjalankan puasa. Berikut adalah bacaan niat puasa Arafah yang dapat dilafalkan:
Nawaitu shauma 'arafata sunnatan Lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Saya berniat puasa Arafah sunnah karena Allah."