Knowledge and Innovation Exchange (KIR) Jakarta Summit 2026 memperkenalkan gim "GenerAksi" sebagai instrumen penguatan peran anak dan remaja dalam menghadapi tantangan perubahan iklim melalui pendekatan inklusif. Inovasi yang dilansir dari Suara ini merupakan produk riset kolaboratif antara Australia dan Indonesia untuk memberikan pemahaman kerentanan wilayah terhadap isu lingkungan.
Peneliti dari PUSKAPA Universitas Indonesia, Widi Laras Sari, mengungkapkan bahwa anak-anak di Indonesia sebenarnya telah terpapar langsung oleh dampak perubahan iklim di lingkungan sekitar mereka. Hal ini terlihat dari pengalaman harian seperti menghadapi banjir setinggi mata kaki yang terjadi berulang kali di area tempat tinggal mereka.
Meski merasakan dampaknya, anak-anak dinilai masih mengalami kesulitan dalam membahasakan situasi yang terjadi. Kendala komunikasi tersebut berimplikasi pada keterbatasan mereka dalam merumuskan solusi iklim maupun terlibat dalam kebijakan mitigasi yang lebih luas.
Gim GenerAksi kemudian dikembangkan dengan metode partisipatif yang melibatkan anak-anak sejak tahap penyusunan konsep hingga pengujian prototipe. Pendekatan ini bertujuan agar materi edukasi yang disampaikan tetap relevan dengan sudut pandang anak dalam memahami persoalan lingkungan di sekitarnya.
Kepala Sekolah Hawkaway Primary School, Leigh Johnson, memberikan data bahwa metode gamifikasi ini telah menjangkau sebanyak 1.600 anak. Program tersebut tercatat sudah diimplementasikan pada 80 sekolah yang tersebar di empat provinsi di Indonesia.
"Sistem gamifikasi membuat anak-anak dapat belajar secara menyenangkan dan percaya diri tentang subyek ini. Gim ini juga sudah dipamerkan ke sejumlah negara seperti Australia hingga Kosta Rika dan dialihbahasakan juga ke bahasa Inggris dan Spanyol," ujar Leigh Johnson.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memberikan respons positif terhadap gim ini untuk digunakan sebagai pengayaan kurikulum. Indikator evaluasi keberhasilan penerapan pendidikan perubahan iklim ini juga telah terintegrasi dalam platform Rapor Pendidikan.
Namun, pemerintah mengidentifikasi adanya hambatan signifikan terkait pemerataan distribusi, terutama menyangkut kesenjangan infrastruktur dan pendanaan di wilayah terpencil. Kepala Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan Kemendikdasmen, Irsyad Zamjani, menekankan perlunya strategi khusus untuk mengatasi kendala tersebut.
"Kita perlu memikirkan bagaimana adaptasinya ke ruang-ruang kelas di pelosok Indonesia karena tentu butuh pembiayaan untuk produksinya," tegas Irsyad Zamjani.
Melalui forum Jakarta Summit ini, kerja sama lintas sektor terus didorong untuk memastikan jangkauan solusi inklusif ini semakin luas. Fokus utama diarahkan agar akses pendidikan iklim berkualitas tidak hanya terkonsentrasi di kota besar, melainkan menyentuh seluruh lapisan remaja di seluruh pelosok Indonesia.