Jutaan jamaah haji melaksanakan ibadah mabit di Mina, Arab Saudi, pada hari-hari tasyrik dalam rangkaian ibadah haji 1447 Hijriah atau 2026 Masehi, Kamis (28/5/2026). Dilansir dari Cahaya, momentum di tengah kepadatan tenda ini dimanfaatkan untuk memperkuat dzikir dan menghadirkan ketenangan batin.
Pelaksanaan ibadah bermalam atau mabit tersebut berpusat di salah satu tempat bersejarah, yaitu Masjid Al-Khayf. Lokasi ibadah yang berada dekat dengan area jumrah ini dipadati oleh lantunan doa dari arus peziarah yang datang silih berganti sepanjang malam.
Ketua Musyrif Diny KH M Cholil Nafis bertindak memimpin perenungan spiritual di lokasi bersejarah tersebut. Wakil Ketua Umum MUI itu menjelaskan bahwa tempat ibadah ini memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan haji sejak zaman Rasulullah SAW.
"Nabi Muhammad SAW juga pernah shalat dan berkhutbah di tempat ini ketika Haji Wada’," ujar KH M Cholil Nafis, Ketua Musyrif Diny.
Masjid Al-Khayf sudah sejak lama menjadi tempat persinggahan bagi para jamaah yang melewati hari-hari tasyrik. Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah tersebut menekankan bahwa esensi Mina melampaui batas geografis semata.
"Mina adalah madrasah ketundukan dan penghayatan makna hidup sederhana di hadapan Allah SWT," tutur KH M Cholil Nafis, Ketua Musyrif Diny.
Menurutnya, para jamaah diajarkan mengenai kesetaraan serta kesabaran di tengah cuaca panas, antrean panjang, dan keterbatasan ruang. Seluruh umat mengenakan pakaian ihram serupa dan tinggal di tenda sederhana tanpa memandang asal negara ataupun status sosial.
Fase bermalam serta prosesi melempar jumrah di Jamarat diakui menjadi tahapan krusial yang sangat menguras kondisi fisik jamaah. Ia pun mengingatkan agar aktivitas ibadah ini tidak bergeser menjadi sekadar rutinitas semata.
"Mabit yang ideal bukan hanya hadir secara fisik di Mina, melainkan juga menghadirkan hati yang penuh dzikir, sabar, syukur, dan penghambaan total kepada Allah SWT," kata KH M Cholil Nafis, Ketua Musyrif Diny.
Saat ini, sebagian jamaah haji tampak beristirahat setelah menyelesaikan prosesi lempar jumrah. Sebagian lainnya memanfaatkan waktu dengan membagikan makanan dan air minum, atau melantunkan doa di sudut-sudut tenda.