Jejak Jurnalis Indonesia di Tengah Pusaran Konflik Timur Tengah

Jejak Jurnalis Indonesia di Tengah Pusaran Konflik Timur Tengah

Kabar penahanan jurnalis-jurnalis Indonesia oleh tentara Israel dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) saat ini kembali memunculkan satu ingatan lama: Ini bukan pertama kali Warga Negara Indonesia (WNI) berada di tengah pusaran konflik Timur Tengah.

Di kawasan yang selama puluhan tahun dipenuhi perang, invasi, blokade, hingga perebutan pengaruh geopolitik itu, jurnalis Indonesia kerap berada di garis paling depan untuk menyaksikan sejarah—dan dalam beberapa kasus, ikut menjadi korbannya.

Lebih dari dua dekade lalu, jurnalis Indonesia pernah memiliki pengalaman serupa. Seorang jurnalis yang kini menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid juga disandera kelompok bersenjata di Irak yang menamai dirinya Brigade Mujahidin Irak.

Kejadian penyanderaan Meutya dan juru kamera, Budiyanto, terjadi pada Februari 2005. Peristiwa bermula ketika ia dan rombongan tengah menempuh perjalanan darat dari Yordania ke Baghdad, Irak, selama 10 jam. Meutya yang saat itu menjadi jurnalis Metro TV menempuh jalur rawan karena jalur udara dinilai lebih berisiko terkena tembakan pasukan dari bawah.

"Jadi pilihannya, ya, sudahlah, walaupun 10 jam kita lalui untuk masuk kembali ke Baghdad. Sudah masuk kedua kalinya itu (dari Irak, ke Yordania, lalu ke Irak lagi)," cerita Meutya.

Ketika memasuki wilayah Ramadi—satu dari wilayah Segitiga Sunni yang menjadi jantung perlawanan pasca-Saddam Hussein—rombongan sempat berhenti untuk mengisi bensin. Di situlah proses penyanderaan dimulai saat pasukan bersenjata Irak menanyakan paspor mereka.

"Waktu itu belum lihat senjata (yang mereka bawa). Terus pas sudah masuk ke mobil, baru mereka ikut masuk dan bawa senjata laras panjang duduk di belakang saya, terus senjatanya diarahin ke saya," beber Meutya.

Todongan senjata laras panjang itu seketika membuat Meutya dirundung ketakutan hebat. Bayangan situasi kacau masyarakat Irak pasca-invasi Amerika Serikat langsung melintas di kepalanya.

"Lebih banyak orang saling bunuh karena memang stres setelah invasi Amerika. Jadi memang keadaannya sangat riots, kita tidak tahu orang ini mau apa. Waktu itu kita pikir yang terburuk... Jadi betul-betul terpikir dibunuh ya enggak akan (hidup). Ya langsung doa-doa. Langsung pasrah," ucap Meutya.

Di sepanjang jalur menuju Baghdad, kepulan debu berbaur dengan barisan kendaraan tempur yang terus bergerak. Suasana sisa-sisa awal invasi militer asing masih mencengkeram kuat seluruh wilayah tersebut.

"Akibat dari invasi itu masih terasa dan Amerika juga belum meninggalkan sama sekali. Dan waktu itu masih ramai, bukan hanya Amerika, semua sekutu Inggris, Prancis, semua masih di sana," ungkap Meutya.

Tujuh Hari di Dalam Gua Gurun

Usai disergap, Meutya membawa ingatan tentang perjalanan panjang yang berakhir di sebuah gua sempit berukuran 3x5 meter di atas gurun pasir. Di dalam ruang logistik yang dingin itu, ia harus bertahan selama tujuh hari penuh.

"Ternyata kalau musim dingin, dingin juga. Jadi tidurnya di atas pasir. Di atas (gua) itu juga tetap pesawat-pesawat militer (melintas)," ujar Meutya.

Di tengah masa penahanan, kelompok bersenjata sempat mendokumentasikan dirinya. Meutya menyadari ada perlakuan yang cukup kontras dibanding perlakuan yang biasanya diterima oleh jurnalis Barat.

"Memang waktu penculikannya juga agak keras, karena mereka mungkin belum tahu kita dari Indonesia, kita negara muslim. Ya tentu sangat beda kalau saya orang atau wartawan Amerika," jelas Meutya.

Kabar penyanderaan yang tersiar cepat di tanah air sempat membuat pihak keluarga terpukul hebat, meski para sandera di dalam gua tidak mengetahui besarnya sorotan publik di Indonesia.

"Kita di sana enggak tahu di sini (di Indonesia) heboh," kenang Meutya.

Dialog di Balik Jeruji Geopolitik

Sisi lain dari penyanderaan ini memunculkan ruang komunikasi antara kombatan dan para jurnalis. Dalam sebuah percakapan, salah satu anggota pasukan justru mencurahkan kegundahan personalnya mengenai situasi pelik di Irak.

“’(Mereka cerita) Kami bilangnya cuma ke rumah saudara, kami nggak billing ke orang tua kami menyandera orang'. Karena seperti itu dan itu membuat kami miris bahwa luar biasa keadaan di Irak, betul-betul susah dan mereka merasa itu betul-betul perjuangan," ujar Meutya.

Para penawan juga sempat mengulas arti nama Meutya yang berarti taat, serta mengutarakan bahwa aksi ini dipicu oleh tekanan konstelasi geopolitik global global yang kerap menyudutkan mereka.

"Alhamdulillah, karena komitmen itu, saya tidak diperlakukan terlalu kasar dan juga sangat menghormati saya sebagai perempuan selama saya disandera," jelas Meutya.

Pengalaman hidup dan mati tersebut memberikan sudut pandang mendalam bagi Meutya mengenai sisi kemanusiaan yang tetap tersisa di tengah konflik bersenjata.

"Namanya orang nyandera, kekerasan pasti ada, didorong dan dihardik, diancam dengan menembak, tapi ke udara, ada. Tapi setelah tujuh hari mau nggak mau, itu saya juga belajar satu hal, bahwa manusia seapapun yang kita pikir, apakah dia mungkin bagi media Barat disebut teroris dan lain-lain, tapi tetap di dalamnya ada hati yang menyatukan kita semua," imbuhnya.

Meutya akhirnya dibebaskan dengan selamat pada 21 Februari 2005. Sebelum berpisah, kelompok tersebut bahkan memberikan kenang-kenangan berupa Al-Qur'an, kerudung, dan siwak.

"Waktu itu karena katanya yang menyandera ini ada temannya yang pulang haji, jadi kami dibawain oleh-oleh juga," tandas Meutya.

Siklus Berulang Dua Dekade Kemudian

Dua puluh tahun usai kejadian di Irak, lembaran kelam penahanan jurnalis Indonesia kembali terbuka di perairan internasional dekat Jalur Gaza. Dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, serta jurnalis iNews Rahendro Herubowo dan jurnalis TV Tempo Andre Prasetyo Nugroho ditangkap oleh tentara angkatan laut Israel (IOF).

Mereka tengah meliput misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 menggunakan beberapa kapal seperti BoraLize, Josef, dan Ozgurluk sebelum akhirnya diintersepsi sekitar 250 mil dari Gaza. Kementerian Luar Negeri RI mengecam keras aksi penahanan ini dan menuntut jaminan keselamatan serta proses pemulangan bagi seluruh WNI.

"Pelindungan WNI akan terus menjadi prioritas utama Pemerintah Indonesia di tengah situasi yang berkembang sangat cepat," tandas Juru Bicara Kemlu, Yvonne Mewengkang.

Artikel terkait

Rekomendasi