Ratusan jemaah haji mandiri yang tergabung dalam kelompok terbang 11 embarkasi Batam mendarat di plaza ruang tunggu Bandara King Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi, pada Minggu (17/5/2026) pukul 02.25 Waktu Arab Saudi. Dilansir dari Cahaya, mayoritas dari total 393 jemaah asal Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe tersebut menjalankan ibadah secara independen tanpa menggunakan jasa Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah.
Struktur kepengurusan yang matang dari tingkat kloter hingga regu menjadi faktor utama kelancaran ibadah kelompok mandiri ini. Pemerintah juga telah memfasilitasi program manasik yang terukur mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten dan kota untuk membekali para jemaah.
Ketua Kloter 11 BTJ, Al Firdaus Putra memaparkan bahwa tingkat pendidikan masyarakat Kota Lhokseumawe yang tinggi turut memengaruhi kesiapan para jemaah dalam memahami tata cara ibadah secara mandiri.
"Di situ juga sudah banyak universitas-universitas, jadi untuk urusan agama pun latar belakang pengetahuan mereka sudah baik," kata Al Firdaus Putra, Ketua Kloter 11 BTJ.
Guna memastikan seluruh rangkaian ibadah berjalan sesuai ketentuan, para petugas menerapkan sistem pengawasan berlapis menggunakan lembar kendali khusus.
"Misalnya yang kami lakukan, kami membuat sebuah buku berisi check list jemaah yang dibagikan ke ketua regu dan ketua rombongan," kata Al Firdaus Putra, Ketua Kloter 11 BTJ.
Pengawasan ini melibatkan ketua regu yang membawahi 10 jemaah serta ketua rombongan yang memegang tanggung jawab atas 40 jemaah. Petugas bimbingan ibadah juga disiagakan untuk mengawal proses ibadah dari awal kedatangan.
"Apakah tawafnya sudah tujuh kali, apakah sainya sudah memenuhi, nah itu semua kami check list jika sudah," kata Al Firdaus Putra, Ketua Kloter 11 BTJ.
Sejauh ini pelaksanaan ibadah berjalan lancar tanpa hambatan berarti karena para jemaah dinilai sangat disiplin dalam mematuhi seluruh aturan ihram.
"Saat kami berkeliling untuk memastikan syarat ihram, mereka sudah tertib, Alhamdulillah berarti manasiknya berhasil," kata Al Firdaus Putra, Ketua Kloter 11 BTJ.
Kondisi serupa terlihat pada kelompok jemaah mandiri asal Sumenep, Jawa Timur yang juga merasa terbantu oleh pembekalan intensif dari pihak kementerian agama setempat sebelum keberangkatan.
"Mulai dari naik pesawat sampai jalur masuk Masjidil Haram dijelaskan," kata Suwaris, Jemaah Asal Sumenep.
Pendampingan aktif dari petugas kloter di lapangan diakui mampu menghapus keraguan para jemaah yang memilih beribadah tanpa jasa bimbingan swasta.