Dua jemaah haji remaja asal Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, sempat tertahan selama lima jam di Imigrasi Bandara Internasional Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah, Sabtu (2/5) sore waktu Arab Saudi. Kendala administrasi pada validasi visa memicu ketegangan bagi jemaah Embarkasi Banjarmasin tersebut.
Masalah muncul saat proses pemeriksaan dokumen di pintu kedatangan karena visa milik Novia Ghina dan Rabiatul Adawiyah mengalami pembatalan sistem secara otomatis. Dilansir dari Detikcom, situasi ini memerlukan koordinasi intensif antara Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), KJRI, dan Kementerian Haji dan Umrah RI.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara, Abdul Basir, menjelaskan bahwa pihaknya segera meminta bantuan kementerian di Jakarta untuk melakukan validasi ulang dokumen yang sempat terbatalkan tersebut.
"Alhamdulillah, setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, visa keduanya bisa diterbitkan kembali. Kami meminta bantuan Kemenhaj di Jakarta untuk proses validasi ulang karena visa mereka sempat ter-cancel," ujar Abdul Basir, Kepala Daker Bandara.
Setelah urusan administratif dengan otoritas imigrasi Arab Saudi selesai, petugas langsung memfasilitasi keberangkatan kedua remaja itu menuju pemondokan untuk bertemu kembali dengan kelompok terbang (kloter) mereka.
"Keduanya kami antarkan ke hotel tempat tinggalnya di Madinah bersama orang tuanya. Alhamdulillah mereka bisa berkumpul kembali dengan jemaah kloternya," terang Basir.
Novia Ghina, salah satu jemaah yang tertahan, mengakui munculnya kepanikan saat petugas imigrasi setempat melarangnya masuk dan mengambil paspornya untuk keperluan pengecekan lebih lanjut.
"Awalnya panik, disuruh nunggu berjam-jam. Paspor juga tidak ada di tangan karena sedang diproses. Paniklah, masa tidak," ungkap Novia Ghina.
Pendampingan dari petugas haji Indonesia selama masa ketidakpastian di bandara membantu menenangkan kondisi psikologis kedua jemaah muda tersebut hingga akhirnya diizinkan melintas.
"Rasanya senang, alhamdulillah bisa lolos imigrasi dan bisa melaksanakan ibadah haji bersama keluarga. Kami ucapkan terima kasih kepada para petugas," tutur Novia Ghina.
Senada dengan rekannya, Rabiatul Adawiyah menuturkan rasa syukurnya atas bantuan dari berbagai pihak, termasuk maskapai penerbangan yang mendampingi selama proses negosiasi berlangsung.
"Deg-degan dan panik, tapi alhamdulillah ada bantuan yang tiba-tiba datang. Terima kasih banyak untuk para petugas," kata Rabiatul Adawiyah.
Saat ini, kedua jemaah termuda tersebut telah bergabung dengan rombongannya di Kota Nabawi untuk beristirahat dan bersiap melaksanakan rangkaian agenda ibadah haji selanjutnya.