Angkatan Udara Pakistan (PAF) mencatat keunggulan mutlak 9-0 menggunakan jet tempur J-10C buatan Cina melawan armada Eurofighter Typhoon Qatar dalam simulasi tempur latihan udara bersama Zilzal-II di Qatar pada tahun 2024.
Hasil latihan bersama tersebut mencakup empat kemenangan dalam skenario luar jangkauan visual (BVR) dan lima kesuksesan dalam pertempuran jarak dekat atau dogfight menurut laporan sumber Pakistan dan Arab Teluk. Interaksi operasional terdokumentasi yang pertama bagi varian ekspor J-10CE ini terjadi tidak lama setelah Pakistan meresmikan jet tempur canggih tersebut ke dalam jajaran armadanya.
Pengamat militer menilai latihan udara tersebut berhasil meningkatkan interoperabilitas serta kesiapan operasional kedua angkatan udara, sementara pihak PAF menekankan pentingnya pembelajaran timbal balik sepanjang latihan. Jet tempur J-10C yang diklasifikasikan sebagai generasi 4+ ini dilengkapi avionik canggih, radar AESA, serta integrasi rudal udara-ke-udara jarak jauh PL-15.
Di sisi lain, armada Eurofighter Typhoon milik Qatar diperkuat dengan sensor dan persenjataan modern Eropa, meskipun belakangan ini platform tersebut menghadapi sorotan terkait biaya operasional dan kebutuhan peningkatan sistem. Keberhasilan operasional J-10C juga kembali mendapat perhatian global setelah jet tersebut dilaporkan menunjukkan hasil kuat dalam skenario tempur nyata melawan aset Angkatan Udara India pada Mei 2025.
Analis pertahanan mengingatkan bahwa hasil simulasi sangat bergantung pada berbagai variabel seperti pelatihan pilot, aturan pelibatan, dukungan perang elektronik, dan profil misi spesifik. Meskipun angka kemenangan 9-0 beredar luas di lingkaran pertahanan Pakistan, baik pihak otoritas Pakistan maupun Qatar belum mengeluarkan konfirmasi resmi mengenai penghitungan skor tersebut.
Latihan Zilzal-II sendiri merupakan bagian dari kerja sama pertahanan yang lebih luas antara Pakistan dan Qatar, yang mencakup koordinasi taktis serta prosedur operasional bersama di luar pertempuran udara. Kehadiran J-10CE ditujukan untuk melengkapi jet tempur JF-17 Thunder serta F-16 lawas dalam rangka memodernisasi kemampuan peperangan jaringan-sentris Pakistan.
Dinamika kekuatan udara regional berpotensi kembali bergeser setelah muncul konfirmasi visual pada 11 Mei mengenai pemasangan gantungan berat (heavy pylons) pada platform J-10C untuk membawa rudal udara-ke-udara jarak ultra-jauh PL-17. Integrasi rudal berkemampuan standoff ini memperluas radius serang J-10C secara dramatis, sehingga memungkinkan pilot untuk melumpuhkan target bernilai tinggi dari jarak yang sebelumnya tidak terjangkau.
Pengamat militer memperkirakan armada J-10CE milik Pakistan akan segera menerima peningkatan kemampuan rudal PL-17 tersebut untuk memperkuat keunggulan tempur di Asia Selatan dan Timur Tengah. Langkah ini sekaligus menjadi sinyal komitmen Cina dalam mendukung modernisasi militer Pakistan, serta memperketat persaingan ekspor pertahanan Cina dengan platform Barat di pasar global.
Analis pertahanan Pakistan juga menolak klaim yang menyatakan bahwa pesawat sistem peringatan dini dan kontrol udara (AEW&C) Saab 2000 dapat memandu langsung rudal PL-15 yang ditembakkan oleh J-10 atau JF-17. Menurut penjelasan teknis para analis, rudal PL-15 utamanya mengandalkan radar pesawat peluncur serta tautan data onboard untuk panduan paruh-paruh perjalanan, sedangkan Saab 2000 berfungsi menyediakan dukungan pengawasan dan kesadaran medan tempur.
Keberhasilan operasional dan peningkatan teknologi J-10C ini dinilai menantang asumsi Barat mengenai superioritas jet tempur konvensional, sekaligus membuktikan kesetaraan operasional teknologi dirgantara Cina di lingkungan keamanan kontemporer.