Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mendesak Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh bangunan sekolah. Desakan ini muncul setelah tembok samping SD Negeri 08 Tebet Barat, Jakarta Selatan, roboh pada Senin (4/5/2026) malam akibat cuaca ekstrem.
Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menegaskan bahwa audit total merupakan langkah krusial demi menjamin keamanan siswa di lingkungan sekolah. Peristiwa robohnya dinding tersebut dianggap sebagai sinyal adanya masalah serius dalam pengelolaan infrastruktur pendidikan di ibu kota sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
“Atas peristiwa ini, JPPI menuntut audit total gedung sekolah sebab keselamatan anak harus diutamakan,” kata Ubaid Matraji, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI).
Ubaid menyatakan kekhawatirannya terhadap transformasi sekolah menjadi tempat yang membahayakan nyawa siswa. Ia meminta pemerintah bertindak cepat sebelum timbul korban jiwa akibat kegagalan pemeliharaan gedung.
“Sekolah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak, tapi hari ini di Jakarta, sekolah justru bertransformasi menjadi tempat yang mengancam keselamatan nyawa mereka. Jangan tunggu ada korban jiwa baru pemerintah mau merespon serius,” katanya Ubaid Matraji, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI).
Pihak JPPI juga menyoroti urgensi Sertifikat Laik Fungsi (SLF) di tengah tantangan perubahan iklim. Menurut Ubaid, tingginya curah hujan seharusnya sudah masuk dalam rencana mitigasi bangunan pemerintah.
“Jika sekolah roboh karena hujan, itu berarti pemerintah gagal melakukan mitigasi,” kata Ubaid Matraji, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI).
Pernyataan tersebut dipertegas dengan pandangan bahwa faktor alam tidak bisa dijadikan pembelaan atas kerusakan infrastruktur publik. Ubaid menilai hujan deras adalah fenomena rutin yang semestinya mampu diantisipasi oleh konstruksi bangunan yang layak.
“Hujan deras itu fenomena alam yang rutin terjadi di Jakarta, tentu tidak bisa dijadikan alasan pembenar bagi tembok yang roboh,” tegas Ubaid Matraji, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI).
Tembok belakang sekolah tersebut diketahui roboh sekitar pukul 22.00 WIB saat wilayah tersebut diguyur hujan lebat. Kepala Satpol PP Jakarta Selatan, Nanto Dwi Subekti, memberikan keterangan awal mengenai penyebab insiden tersebut.
“Tembok roboh akibat curah hujan tinggi,” ujarnya Nanto Dwi Subekti, Kepala Satpol PP Jakarta Selatan.
Berdasarkan laporan di lapangan, material bangunan yang runtuh sempat menutup akses jalan serta menyumbat saluran air warga. Personel BPBD Jakarta Selatan menemukan fakta bahwa struktur bangunan tersebut memang sudah tidak lagi kokoh sebelum diterjang hujan.
“Dari hasil assessment tembok tersebut usia bangunan sudah tua dan lapuk serta bagian bawah tembok terkikis air,” kata Kendar, Kepala Satgas BPBD Jakarta Selatan.
Dampak kerusakan mencakup lima petak bangunan yang difungsikan sebagai kantin sekolah. Hingga Selasa pagi, petugas Kelurahan Tebet Barat masih melakukan evakuasi material dan pembersihan saluran air dari tumpukan puing bangunan.