Tiga Kapal Perang TNI AL Kembali Usai Misi di Filipina

Tiga Kapal Perang TNI AL Kembali Usai Misi di Filipina

Tiga kapal perang TNI Angkatan Laut kini tengah dalam perjalanan menuju Indonesia setelah merampungkan misi kunjungan pelabuhan di Cebu, Filipina, pada Senin (11/5/2026). Kunjungan diplomatik tersebut dilakukan bertepatan dengan penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di lokasi yang sama.

Kepulangan armada tempur ini dikonfirmasi langsung oleh pimpinan tertinggi matra laut di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok. Sebagaimana dilansir dari Nasional, misi bertajuk goodwill port visit ini bertujuan memperkuat hubungan antarnegara sahabat di kawasan Asia Tenggara.

“Tiga KRI dari Filipina melaksanakan port visit, port visit, goodwill port visit di Cebu, Filipina. Kebetulan dilaksanakan juga KTT ASEAN di sana,” kata Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali.

Laksamana Muhammad Ali merinci identitas kapal-kapal yang terlibat dalam misi diplomatik tersebut. Saat ini, seluruh personel dan armada dipastikan sedang berlayar menuju perairan tanah air.

“Sekarang tiga kapal tersebut, KRI Brawijaya, Prabu Siliwangi, dan R.E. Martadinata sudah perjalanan kembali ke Tanah Air,” tambah dia.

Selain kunjungan ke Filipina, TNI juga telah menyiagakan kekuatan tempur di wilayah perbatasan Sulawesi Utara pada Jumat (8/5/2026). Langkah ini diambil guna menjamin keamanan selama berlangsungnya agenda pertemuan para pemimpin negara ASEAN di Cebu.

Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan mengerahkan aset dari berbagai matra untuk operasi kesiapsiagaan tersebut. Komposisi armada mencakup kekuatan udara dan laut yang disebar secara strategis.

“Ada 5 pesawat F-16, Hercules dan A400M untuk operasi kesiapsiagaan ini. (Lalu) 3 KRI (jenis) Brawijaya, Siliwangi dan RE Martadinata,” ungkap Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Rico Ricardo.

Brigjen Rico Ricardo menekankan bahwa pengerahan pasukan ini merupakan langkah antisipasi rutin dalam mengawal agenda internasional. Pengamanan dilakukan dengan tetap menjunjung tinggi kedaulatan negara tetangga.

“Indonesia memandang stabilitas dan keamanan kawasan sebagai tanggung jawab bersama negara-negara ASEAN,” ujar dia.

Partisipasi militer Indonesia dalam konteks ini disebut sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap keberhasilan agenda strategis di kawasan. Hal ini diharapkan mampu menciptakan iklim yang kondusif bagi diplomasi regional.

“Karena itu, kesiapsiagaan TNI dalam konteks ini merupakan bagian dari kontribusi Indonesia untuk mendukung terciptanya situasi kawasan yang aman, kondusif, dan mendukung suksesnya agenda-agenda strategis ASEAN,” tambah dia.

Artikel terkait

Rekomendasi